Number Game - Make Your Class Full of Fun!

Do you desire to organize the edurecreational classroom activity? This article might be satisfied you. :).

Visual Representation

The Non-Mechanistic Method to Solve The Linear Equation Related Problem For Your Little Students!

Broken Calculator Activity

Calculator seem to be forbidden tool in the classroom. Many parents and educators are afraid that their child will be over depend on it to do (even for) the small computation. This article might give you different point of view about how to use calculator to develop not just the pupils’ computational ability, but also number sense.

Introducing Linear Equation System For Grade 8 Students

Sometime we are tend to underestimate the students ability. We think that without give them a transfer material process, they wouldn’t able to solve any mathematical problem. However, we might be surprise with the informal strategies that emerge as their way in finding solution. RME give them chance to elaborate themselves more.

RME as The Approach to Create a Meaningful Learning Environment

The main idea of realistic mathematics is to emphasize the nature of mathematics as a human activity. Its mean, the students need to be active learner to discover and reinvent mathematics in a meaningful way.

Monday, 24 April 2017


“SAYA DOSEN YANG BAIK”
(SEBUAH REFLEKSI)






  

OLEH:
RATIH AYU APSARI
NIR. 2016.5.165





Makalah Memenuhi Tugas Pendidikan dan Pelatihan Dosen Muda Pola 90 Jam Diselenggarakan Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan  Mutu Undiksha pada tanggal 29 Juli 2016


 Dosen Pengampu:
Prof. Dr. A.A.I.N. Marhaeni, M.A.



JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
2016


=====================================================================



SAYA DOSEN YANG BAIK

“Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, karenanya jadilah dosen di hati mahasiswa bukan dosen di mata mahasiswa.” (Prof. Dantes, 2016)


Profesi pendidik sepertinya memang ditakdirkan untuk saya. Terlahir sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, sejak kecil saya terbiasa mengambil peran sebagai “guru” bagi adik-adik saya untuk masalah pelajaran sekolah. Tak hanya saudara kandung, tetangga sekitar rumah yang berusia lebih muda juga sering ke rumah untuk belajar bersama. Meskipun pada saat itu saya belum mengetahui cara mengajar yang baik, tapi paling tidak saya sudah berusaha untuk membagi yang saya miliki. Saya percaya, hakikat dari berbagai bukanlah seberapa banyak yang bisa saya berikan kepada orang lain, tapi setulus apa saya memberikan yang saya miliki pada orang lain. Seiring bertambahnya pengalaman, saya memaknai bahwa menjadi pendidik, menjadi guru, menjadi dosen, bukan hanya masalah menjadi pandai dalam bidang ilmu tertentu. Bukan pula mengetahui cara memberikan ilmu yang dimiliki kepada orang lain. Lebih dari hanya memberi, mendidik adalah menginspirasi, memotivasi, membagi yang dimiliki, membuat inovasi, mengamalkan pengetahuan yang dimiliki, menjadi panutan, memberi teladan, membudayakan kebajikan, menanamkan kepekaan sosial. Pendidikan adalah hal yang sangat kompleks dan karenanya menjadi seorang pendidik, utamanya menjadi dosen, merupakan tanggung jawab yang kompleks. Dari segi keilmuan maupun sosial.
Faktor pertama yang akhirnya mendorong saya untuk menjadi seorang pendidik adalah orang tua, khususnya Ibu saya. Ibu adalah tokoh yang paling berjasa dalam mengasah minat dan bakat saya dalam membantu orang lain untuk belajar. Ibu tidak mengetahui teori mengajar secara formal karena bukan lulusan sekolah mengajar, akan tetapi Ibu saya memberikan kesempatan pada saya untuk learning by doing. Walaupun kemampuan saya tergolong biasa-biasa, Ibu selalu mendorong saya untuk berani mengajarkan adik saya membuat pekerjaan rumah, memahami isi buku pelajaran dan terutama menjelang ulangan harian dan ulangan umum. Dibandingkan mendaftarkan anak-anaknya pada bimbingan belajar yang memang pada saat itu merupakan sebuah trend baru yang semakin lama semakin menjadi hal yang nyaris wajib bagi sebagian besar orang tua teman-teman saya, Ibu lebih memilih untuk mengoptimalkan pembelajaran di rumah. Belajar bersama di malam hari setelah makan malam selalu rutin kami lakukan sampai adik saya yang pertama menyelesaikan jenjang pendidikan dasarnya. Setelahnya, ia sudah lebih mandiri dalam belajar dan hanya akan bertanya beberapa materi yang tidak bisa ia pahami sendiri dengan membaca.
Bertahun-tahun setelahnya, saya mendengar salah seorang guru saya di sekolah menengah mengutip sebuah pepatah Cina yang isinya: saya mendengar maka saya lupa, saya melihat maka saya tahu, saya mengerjakan maka saya paham. Ditambah lagi, ketika mengenyam pendidikan tinggi di UNDIKSHA, saya mendengar salah satu professor saya di salah satu mata kuliah awal yang membahas keterampilan mengajar menyampaikan bahwa belajar dengan cara berbuat langsung atau terlibat langsung (learning to do) akan sangat efektif untuk mengkonstruksi sendiri pemahaman seseorang. Selain itu, mampu membahasakan kembali suatu pengetahuan dengan bahasa sendiri (tidak mengulang pernyataan buku secara hapalan tanpa memaknai ulang) adalah kompetensi berpikir tingkat tinggi dan dapat digunakan sebagai salah satu metode dalam belajar. Hal ini diistilahkan dengan belajar melalui mengajar. Secara formal, saya memang baru mengetahui istilah tersebut, akan tetapi secara kebermanfaatan Ibu saya sudah mencontohkannya.
Akan tetapi, tidak semua hal yang menjadi pengalaman mengajar sederhana saya di masa lalu adalah hal positif. Saya sadar betapa saya tidak mengajarkan kedua adik saya dengan optimal. Sebelum saya menekuni bidang pendidikan matematika secara formal di UNDIKSHA, saya berpatokan pada diri saya sendiri terkait bagaimana seseorang sebaiknya belajar matematika. Oleh karenanya, saya sering bersikap keras kepada adik-adik saya yang saya temani belajar matematika. Setelah berproses untuk menjadi pendidik matematika, saya baru menyadari bahwa implikasi dari cara mengajar matematika yang tidak memperhatikan pengetahuan awal seseorang dan menganggap setiap orang dapat belajar dengan cara dan porsi yang sama adalah saya (sebagai pendidik) menjadi cepat marah, tidak sabar dan tidak mengharagi keunikan individu dalam belajar. Hal-hal negatif tersebut, tidak seharusnya dipertahankan dalam pembelajaran karena akan menimbulkan ketidakengganan mahasiswa untuk belajar.
Dosen yang baik pada abad ini adalah yang dapat menggugah mahasiswa untuk belajar karena dapat memberikan rasionalisasi mengapa mereka perlu belajar. Hal ini disebabkan karena telah terjadinya pergeseran nilai dalam kehidupan bermasyarakat, dimana peserta didik tidak lagi belajar karena takut dengan pendidiknya melainkan lebih karena mereka mengetahu kerbermaknaan yang telah diperoleh apabila mereka melakukannya.
Baru sekali ketika mengikuti materi tatar dari Prof. Dantes pada kegiatan PPDM ini, saya mendengar konsep yang serupa. Bahwa manusia di abad millennium ini berorientasi pada rasionalisasi dan karenanya pendidikan yang diperlukan adalah yang dapat menjembatani mereka untuk menjadi manusia yang mengalami proses memanusiakan diri, yang secara bermartabat tahu makna dari segala tindakan yang dilakukannya. Implikasinya, apabila ingin menjadi dosen yang baik, saya perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengalami sendiri pengalaman belajarnya. Dosen yang baik adalah yang tidak menganggap semua individu dapat dicekoki pengetahuan melalui transfer, tapi melalui transformasi dalam suatu pembelajaran sarat makna dan “kaya”.
Istilah “kaya” dalam pembelajaran saya dengar dari professor-professor saya di Utrecht University yang selalu menekankan bahwa pembelajaran yang kering adalah yang hanya membuat siswa mendapat paling banyak satu kompetensi dalam pembelajaran: hanya sekedar tahu. Tahu yang ketika pulang sekolah nanti, dengan cepat akan terlupakan olehnya. Pembelajaran yang kaya adalah yang mengoptimalkan proses eksplorasi dan elaborasi, misalnya dalam pembelajaran matematika, yang mengaitkan matematika dengan kehidupan sehari-hari, yang mengaitkan satu konsep dengan konsep lain sehingga tidak terkesan berdiri sendiri, yang mengaitkan matematika dengan cabang ilmu lain sehingga terlihat kebermanfaatan dan sekaligus kekuatan dari ilmu yang dipelajari. Dari sini, saya memaknai dosen yang baik adalah yang mempersiapkan pembelajarannya dengan baik. Materi ajar boleh sama, tapi pengemasan dengan ceramah (telling) dan dengan penemuan kembali secara terbimbing (guided reinvention) akan menghasilkan pengalaman belajar berbeda dan luaran yang berbeda.
Pada akhirnya selain faktor kebiasaan mengajarkan saudara-saudara saya di masa kecil, lingkungan sekolah juga memantapkan niat saya untuk menjadi guru. Banyak teman-teman saya yang saya lihat mengalami kesulitan dalam belajar matematika. Sebegitu sulitnya sampai membenci mata pelajaran ini. Sebegitu bencinya hingga takut berhadapan dengan guru matematika di kelas. Ketika duduk di kelas XII SMA, ada tiga pelajaran di bidang MIPA yang saya kuasai dengan cukup baik: biologi, kimia dan matematika. Dari ketiganya, yang paling banyak telah saya pelajari adalah biologi. Akan tetapi, ketika menentukan jurusan, saya sampaikan kepada orang tua saya bahwa saya akan memilih matematika. Alasannya, karena matematika adalah salah satu mata pelajaran yang masih ditakuti orang, sehingga tidak banyak yang mau untuk belajar mengajarkannya. Belum lagi banyak guru matematika yang terkenal killer, tidak boleh ditanya dan tidak boleh dibantah. Belajar untuk paham saja sudah sulit, apalagi untuk bisa mengajarkan ke orang lain. Saya, meskipun bukan yang tergolong yang paling pintar matematika di kelas pada saat SMA, masih bisa mengikuti pembelajaran dengan baik. Oleh karenanya, saya berpikir biarlah saya yang belajar bagaimana cara mengajar matematika. Saya akan belajar bagaimana mengajar matematika yang tidak menyebabkan peserta didik saya terbebani. Sehingga kesulitan yang saya dan teman-teman alami semasa kuliah tidak dialami lagi oleh generasi setelah kami.
Memiliki pola pikir yang tidak suka “balas dendam” ini ternyata merupakan salah satu modal yang baik untuk menjadi pendidik. Pada prinsipnya, beberapa orang berpikir dulu saya susah, mengapa sekarang orang lain bisa mudah? Akan tetapi dalam pendidikan, seorang pendidik perlu memiliki sikap inovatif apa yang dapat saya lakukan untuk berkontribusi pada perkembangan lingkungan belajar yang lebih? Saya percaya bahwa pendidik yang baik bukanlah yang sekedar memiliki sederet piala penghargaan menjadi pemenang olimpiade, tetapi berapa banyak anak didik yang bisa dihantarkan untuk memperoleh hasil yang optimal sesuai kemampuannya. Entah itu menjadi pemenang olimpiade atau lulus dalam tes di tempat yang ia inginkan atau hal sederhana yang sama sekali tidak sederhana: jatuh cinta pada ilmu yang ia pelajari. Oleh karenanya, sebagai seorang dosen, saya bertekad untuk memberikan ruang bagi mahasiswa saya untuk bisa merasa nyaman ketika belajar, nyaman ketika bertanya dan nyaman ketika memberi pendapat. Dengan demikian, jika mereka terbiasa belajar dalam iklim akademik yang baik, ketika menjadi guru nantinya mereka akan menerapkan hal yang sama bagi peserta didiknya. Implikasinya, jika satu orang mahasiswa saya nantinya akan (misalnya) mengajar di 6 kelas dalam satu semester, dan satu kelasnya terdiri dari 35 orang (bahkan lebih mengingat masalah kelas besar di Indonesia), akan ada setidaknya 210 siswa yang mendapat pembelajaran lebih baik setiap semesternya. Itu baru dari satu mahasiswa, jika setiap tahunnya saya mengajar 4 kelas yang masing-masing berisi 25 orang, saya memiliki 100 orang mahasiswa. Ada setidaknya 21.000 siswa Indonesia masa depan yang setiap semesternya akan memperoleh pengalaman belajar yang saya harap lebih baik dari pengalaman belajar saya dan teman-teman saya di periode yang lampau.
Mengajak mahasiswa untuk bersikap akademik tentu tidak bisa dilakukan dengan hanya menyuruh. Sebagai dosen yang baik, saya sadar betul saya perlu mengkondisikan pembelajaran yang mendukung tercapainya pembudayaan nilai-nilai yang diharapkan. Saya banyak belajar dari dosen-dosen saya di Belanda bagaimana pengkondisian yang dilakukan agar saya dan teman-teman sesama mahasiswa Indonesia yang terkenal diam, bisa menjadi lebih aktif dan berani untuk unjuk diri secara akademik. Berikan pertanyaan, tanyakan pendapat mahasiswa, jangan cepat menyalahkan dan memotong pendapat mahasiswa. Apabila tidak ada yang bersedia menyampaikan gagasan, tunjuk satu-satu hanya agar mereka berani berbicara. Bahwa tidak apa-apa untuk memiliki gagasan sederhana. Bahwa tidak ada benar salah dalam belajar. Bahwa tidak memalukan walaupun berbicara dengan bahasa Inggris yang terpatah. Bahwa tidak ada masalah memiliki sudut pandang berbeda. Bahwa tidak masalah apabila pemahaman dalam menjawab masalah belum sampai finish.
Selain mengkondisikan, memberikan teladan adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan. Bagaimana mengajak mahasiswa untuk menghargai orang yang sedang berbicara di depan kelas, jika setiap mengikuti seminar, dosennya sendiri sibuk berbicara di luar topik dengan orang di sebelahnya? Bagaimana meminta mahasiswa untuk berani berpendapat, jika dosennya sendiri ciut nyalinya di forum akademik? Bagaimana meminta mahasiswa aktif belajar, jika dosennya sendiri enggan mengembangkan kualitas diri, enggan penelitian, enggan unjuk hasil penelitian? Bagaimana meminta mahasiswa menjadi kritis, jika ketika mahasiswa bertanya dosen sudah menunjukkan tanda-tanda tidak suka? Dari sana saya belajar, menjadi dosen yang baik adalah dosen yang menerapkan falsafah Tri Kaya Parisudha dalam memberi kesempatan mahasiswa berproses. Dimulai dari pikiran, ide-ide, gagasan yang baik, diucapkan dengan santun dan memotivasi dan dicontohkan melalui praktek yang sesuai. Sehingga terjadi konsistensi antara apa yang ada dalam nurani, apa yang diucapkan dan apa yang dilaksanakan.

Sebagai simpulan, bagi saya dosen yang baik adalah dosen yang terbuka terhadap kritik. Dosen yang baik adalah yang jujur terhadap ilmu pengetahuannya. Dosen yang baik adalah yang tidak selalu merasa benar. Dosen yang baik adalah yang berintegritas terhadap komitmennya untuk mencerdaskan bangsa. Dosen yang baik adalah yang memberikan teladan. Dosen yang baik adalah yang tidak pernah berhenti belajar. Dosen yang baik adalah dosen yang ada di hati mahasiswa.





*dishare hampir setahun setelahnya, sebagai self reminder, sudahkah menjadi dosen seperti yang diharapkan oleh dirinya sendiri.

Sunday, 16 April 2017

[cinTs]

[cinTs]: Eat, Gosip, Gosip

Biasa ya kalau banyak kerjaan, pasti males ngerjain yang seharusnya dikerjain terus pengennya malah nulis blog yang isinya ya begini-begini.
Malam ini kita ketemuan mendadak, baru direncanain tadi, langsung gas.
Alasannya ya biar sempet aja ketemu, gosip, gosip.
Biar seru gosipnya, sekalian ngemil-ngemil cantik.
Biar lebih seru lagi, lokasinya yang semi outdoor.
Jadi pergilah kita ke tempat makan terdekat yang sediain meja-meja santai, terus tempatnya terbuka. Sempet niat ke puputan, cuma ya karena remang-temang ntar kita gga liat lagi jangan-jangan orang yang diomongin di sebelah kita, jadi gga jadi deh :D

Jadi apa agenda kita hari ini?
Nothing special.
Perlu aja temen buat menguatkan hari-hari yang belakangan ini cukup melelahkan.
Melelahkan kenapa?
Ya, lelah aja.
Ada yang lagi jadi pejuang tesis isi lagi jadwal di sekolah padet.
Ada yang lagi jadi pejuang LDR dan jadwal ngajar les-nya gga santai.
Ada yang lagi sibuk banget nungguin chat orang super sibuk sedunia.
Hufth.

Pokoknya setuju aja deh kalau kita lagi lelah. Lelah lelah.
Meratapi diri sendiri gitu kayak kurang seru.
Jadi perlu temen, buat diajak ngetawain hal-hal yang sebenarnya sedikit mengenaskan.
Cuma kalau dibahas bertiga jadinya lucu aja.

Belum lagi dibumbu-bumbuin sama cerita-cerita tentang orang lain yang gga kalah seru.
Cerita temennya-temen-dari temen kita misalnya. Kita gga tahu siapa orangnya, cuma cerita hidupnya layak untuk disimak dan dijadikan pengalaman berharga buat berhenti meratapi hidup sendiri. Aiiiittt.

Pada intinya, bertemanlah dengan orang-orang positif dan berpikiran optimis. Jadi pulang main perasaan kamu lebih tenang dan bahagia.

Ya kayak kita ini. Haha.

Walaupun masalah-masalah yang disebutkan di atas belum teratasi dan kita bertiga sama-sama belum nikah sampe sekarang (dan ini orang-orang kayak bingung sendiri ngurus hidup kita yang belum merid wkwkkw :D), kita selow santai sih. Menguatkan mental bahwa nanti kalau nikah kita pasti udah siap. Kita mungkin gga bisa sesering sekarang ketemunya, tapi bukan berarti juga kita bakal sendirian nantinya.
Ketemu atau gga, kita tahu kita punya satu sama lain.
Jadi gga masalah.

Seneng aja gitu ya punya orang-orang yang jadi satu paket. Mudah-mudahan bisa terus kayak gini sampai tua nanti. Gga saingan-saingan, gga yang sok-sok jadi hits, gga yang baru ada temen baru terus yang lama ditinggal. Settle aja rasanya punya besties kayak gini. Beberapa orang perlu banget pencitraan buat diajak main sama temennya. Ya gga masalah sih, itu hak mereka. Cuma kan ribet aja kalau terus harus kayak gitu.

Gga bisa kan kayak kita yang misalnya bawa uang dua puluh ribu aja terus mesen paling banyak atau minta-minta dijemput soalnya malem gga berani pulang sendirian atau sering gga ada waktu gara-gara jam kerja padat. Udah kayak gitu masih diajak temenan dan gga ditinggal main kecuali kalau mendesak banget. Haha.

Banyak hal yang bisa diceritain kalau udah bahas tentang kita, tentang kalian, tentang mereka. Sengaja ditulis sekarang dikit-dikit, mumpung inget aja. Misalnya nanti lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, lima belas, dua puluh, dua puluh lima .... empat puluh lima tahun lagi atau kapan gitu pas yang udah tua dan mulai pikun, baca ini lagi mungkin bakal inget lagi sedikit adegan yang melintas hari ini. Sedikit cerita yang dibagikan hari ini. Sedikit gosip dan tawa yang disuarakan dengan suka cita hari ini.


Kata kuncinya ...
-koran, read, gga bales, ngambul.
-gga bilang mau pergi, surprise, mak-mak ngurus semuanya, parcel
-kode, read, gga bales, 2 hari


apa sih yang sebenernya kita omongin hari ini?
Hahaa
coba tanya sama mbok mbok bli bli yang di meja sebelah. Mereka kayaknya denger dengan jelas banget apa yang kita bahas.
I don't know what future may bring us, but I hope we can always support each other so we will never stand alone.

love,
cinT 3

Saturday, 31 December 2016

End Year Reflection: A Tribute for My Lecturer

End Year Reflection: A Tribute for My Lecturer


Time flies so fast in 2016. It seems like it just yesterday when I write my resolution for 2016 but suddenly it is time for me to write my reflection for everything done in a very lovely 2016.

Well, many amazing things happened and of course I am so grateful, thank to the Almighty God that He blesses me and my family and all people I love. I hope the God's love and bless will always be with us forever. Aamiin.

Anyway, besides all beautiful matters around me in 2016, I have a very unpleasant good bye to one of my lecturer, Bapak Dr. I Wayan Sadra, M.Ed. He passed away on Sunday, October 30th 2016.




Buat saya, Bapak almarhum adalah salah satu dosen yang sangat sangat sangat berjasa dalam pengembangan diri saya. Walaupun menurut saya semua guru dan dosen saya adalah orang yang berjasa menjadikan saya seperti sekarang, tapi Bapak almarhum adalah salah satu yang membukakan jalan bagi saya sehingga bisa ada perubahan yang sangat besar dalam diri saya.

Saya pertama kali diajar beliau di semester 1 pada mata kuliah Pengantar Dasar Matematika. Sosoknya yang tegas, detail dan disiplin membuat beliau disegani oleh mahasiswa, termasuk saya. Selama di kelas, beliau sangat memperhatikan bagaimana mahasiswanya bekerja dalam kelompok, bagaimana diskusi berjalan, bagaimana pemahaman konsep kami dan sebagainya. Beberapa kali saya ditegur untuk fokus pada grup diskusi karena sebagai mahasiswa semester satu, saya dan teman-teman suka salah fokus bercanda ketika mengerjakan lembar kerja mahasiswa ataupun buku paket kami saat itu.

Waktu berlalu, beberapa mata kuliah kembali saya lalui di bawah pengajaran beliau. Lalui seperti biasa, tidak ada yang terlalu istimewa, dalam artian saya tidak merasa banyak diperhatikan ataupun merasa jadi mahasiswa teladan di setiap mata kuliah beliau. Saya melakukan sebaik yang saya bisa. Saya tidak menyadari bahwa beliau adalah pengamat yang luar biasa di balik caranya mengevaluasi mahasiswa, termasuk setiap kali konsultasi tugas dan makalah. Saya tidak tahu.

Ketika saya di semester 6 dan 7, beliau lebih sering menyapa setiap kami berpapasan di kampus. Sering beliau menyempatkan waktu untuk sekedar bertanya sampai dimana seminar saya (waktu semester 6) atau sampai dimana proposal saya (di semester 7), meskipun beliau bukan pembimbing akademik, pembimbing seminar maupun pembimbing skripsi saya. Dalam beberapa kali kesempatan diskusi singkat-singkat kami di sela-sela pertemuan, bapak almarhum seringkali memuji, "Ibunya ratih pasti pintar, makanya ratih seperti ini." dengan kalimat yang kurang lebih seperti itu. 

Saya masih tidak terlalu paham kenapa saya mendapat pujian dari seorang dosen sekaliber beliau yang terkenal sekali pemerhati detail. Sebagai seorang mahasiswa biasa-biasa saja, saya pastinya merasa tersanjung, tapi juga bertanya-tanya karena merasa bahwa saya sama saja dengan yang lain.

Ketika akhirnya saya menjadi salah satu orang yang ujian proposal pertama di angkatan, pun yang ujian skripsi di gelombang pertama di angkatan. Bapaknya menyalami dengan penuh suka cita. Ada perasaan syukur dan bangga bahwa saya bisa melalui ini dan membuat dosen saya merasa bahagia dengan pencapaian saya.

Di sekitar akhir Juni atau awal Juli tahun 2012 ketika saya selesai yudisium, saya masih bingung membawa kemana arah hidup saya berikutnya. Melanjutkan studi S2 di kampus atau mencoba bekerja di sekolah internasional. Siapa sangka di suatu siang yang biasa, benar-benar biasa, beliau tiba-tiba menanyakan apakah saya mau melanjutkan studi dengan beasiswa. Di luar negeri.

Orang seperti saya?

Ya saya mau. Tapi apa iya saya pantas?

Bapak almarhum meminta saya memikirkan tawaran itu dan mendiskusikan dengan keluarga. Prosesnya akan panjang dan butuh waktu. Kalau lancar semua, Juni 2013 baru akan mulai studi dengan beasiswa.

Saya menerima tawaran itu karena tentu kesempatan itu tidak akan datang dua kali. Rekomendasi. Rekomendasi langsung dari dosen saya yang walaupun saya tidak minta. Tentu tidak boleh dilewatkan.

Tapi saya tidak terlalu yakin dengan diri saya.
Bagaimanapun proses beasiswa pasti tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bagaimana jika saya gagal?

Untuk itu, sambil mengisi waktu dan berjaga-jaga seandainya saya tidak lulus beasiswa, saya memilih melanjutkan S2 di kampus asal. Dengan biaya dari orang tua. Sambil mempersiapkan banyak hal.

Rekomendasi berlanjut sampai bantuan untuk memperoleh rekomendasi rektor dan lain dan lain dan lain. Sampai akhirnya saya dinyatakan lulus.
Dan akhirnya lulus studi master dan magister.

Dan kemudian kembali untuk mengabdi pada almamater yang telah membesarkan.

Some of my friends keep asking how could I get the scholarship. How could I get the recommendation. It was not as easy as today. Why it should be me? (and perhaps they questioning why don't them. but I personally don't care)
Well, I don't know that I can do it until I did it.
And I am so thankful that someone else, in this case Bapak Sadra, saw my abilities even when I didn't recognize my own.

Belum sempat menjadi asisten beliau. Sayang sekali.
Sayang sekali bahwa di suatu sore di penghujung Oktober 2016 saya tiba-tiba mendapat berita kepergian Bapak.

Tulisan ini tidak runut, tidak juga nampak bagus.
Tapi sebelum tahun ini berakhir, ingin rasanya menuliskannya.

Bahwa jika Bapak (tentunya dengan kehendak Tuhan), tidak menawarkan rekomendasi kuliah untuk saya, tentu tidak sebanyak ini pengalaman yang saya dapatkan. Tentu belum pernah saya rasakan penerbangan 17 jam. Pun belum saya tahu rasanya winter dan tahun baruan di negeri orang. Tidak tahu rasa kangen pada keluarga, bangsa dan negara. Tidak ingat rasa ingin mengabdi.

Segala hormat dan terima kasih saya sampaikan kepada Bapak. Meskipun tulisan saya kali ini tidak seindah tulisan haahahehe saya yang biasa, karena entahlah. Sulit untuk melukiskan dengan kata-kata betapa saya kehilangan, betapa saya berterima kasih, betapa saya termotivasi untuk bisa melanjutkan cita-cita mulia Bapak sebagai pendidik. Di antara sakit, Bapak masih ingat menanyakan kelas Bapak, masih ingat bimbingan-bimbingan Bapak.

Selamat jalan, Bapak.





Tuesday, 1 November 2016

Volunteering UWRF 2016

Volunteering UWRF 2016



http://www.ubudwritersfestival.com/wp-content/uploads/2016/06/2016-UWRF-General-Poster-no-logo-1.jpg



UWRF ladies and gentlemen!
Yes, I am finally became a part of UWRF 2016 as a volunteer *clapping hands so excited*

UWRF is an acronym for Ubud Writers and Readers Festival, an annual event conducted in Ubud-Bali, Indonesia. Inti kegiatannya adalah para penulis dan penggemar tulisan apapun itu, all around the world, meeting at the same point: UBUD.



Ahttp://www.globeslice.com/wp-content/uploads/2015/10/Ubud-Street-Market-Wide.jpg


Kegiatan ini sudah berlangsung lumayan lama, dari tahun 2003, jadi yes true. This is the 13th UWRF!!

Setelah bertahun-tahun kepo sama event ini dan tahun lalu sudah hampir terlibat sayangnya cancel karena jadwal tidak match saudara-saudara, akhirnya tahun ini saya jadi juga bisa menjadi sukarelawan atau bahasa kerennya volunteer dari event internesyenel satu ini.
And yes, in this post I would love to share my experience as a volunteer.
Yuhuuuu!



http://www.ubudwritersfestival.com/wp-content/uploads/2016/10/Slider-Festival-Week-04-resized.jpg



PS: this is my personal experience, if you want o read more formal, complete and concise reports related to UWRF please just open their website on: http://www.ubudwritersfestival.com/.


Well, well. Let start from the very beginning.
Jadi event ini diselenggarakan 4 hari dari Kamis 27 Oktober sampai Minggu 30 Oktober. Nah, kalau minat jadi volunteer, sekitar bulan Agustus gitu bakalan ada pengumuman call for the volunteer di webnya UWRF. Pemberitahuan ini juga biasanya di share via sosmed lain, jadi stay tune aja terus di berbagai sosmed kesayangan Anda. Haha.



http://www.ubudwritersfestival.com/volunteer/


Di form aplikasi nanti kita bakalan masukin identitas diri dan motivasi buat ikutan UWRF dan tentunya point-point penting yang bakalan bikin penyeleksi volunteer minat masukin kita ke accepted list.

Yes, not all applicant are passed the list. Kurang tahu juga apa kriteria supaya bisa lulus seleksi volunteer, tapi sepertinya yang utama adalah kita available di tanggal-tanggal yang ditentukan, bisa berbahasa Inggris at least orally karena nanti kan jadi volunteer yang harus berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai penjuru dunia. Kemudian juga cantumkan strong motivation buat ikutan UWRF. Kalau lempeng-lempeng aja, mungkin agak males lah yang nyeleksi ya, haha. Tapi kalau terlalu semangat, nanti yang seleksi curiga juga. Haha. Have no idea sih kalau yang itu. Dari saya sendiri sih apa adanya aja, pada dasarnya memang tertarik banget uwehehehhehe.

Di form aplikasi itu, kita juga bisa tulis minat kita masuk ke program mana nantinya. Jadi mau volunteer di program apa. Check out all complete program in UWRF website yang readers. :))

I personally chose the Children & Youth Program as the first option and the International Writer Liaison for the second one.

And I got my first choice!!

So, finally in the middle of September (or in the end?), I got an email from uwrf's volunteers coordinators (Kak Ochie dan Kak Ratih *yes, her name is same as me!) that I am selected. Yes!!




Kemudian dateng deh berbagai email yang minta konfirmasi apakah bersedia dengan penempatannya dan lain-lain. Kalau keberatan dengan penempatan intinya masih bisa di nego. Kebetulan kali ini pilihan dan penempatan saya sesuai yang diharapkan, so no complaint from me :D

Dan ternyata saya gga salah pilih program.
As fun and interesting as I expected. Bahkan lebih!


Nah ini beberapa list dari website UWRF tentang requirement buat para volunteer di Children & Youth Program.


http://www.ubudwritersfestival.com/volunteer/


Jadi ceritanya saya pilih Children & Youth Program karena saya pengen banget banyak bersosialiasi sepanjang kegiatan. Oke belakangan ini memang saya ngerasa perlu upgrade my English skill. Dan karena belum ada bantuan dana untuk wara wiri LN lagi, let just participate in an international event. Haha. Prediksi saya, di children & youth program dengan target usia 8 - 15 tahun, anak-anaknya pasti pada hebring hehe. Bakalan sangat banyak ngomong. Dan lagi ada ortunya yang nungguin. Jadi banyak kesempatan buat communication. Yuhuu.


Di satu sisi pengen sih ikutan di Main Program aja, jadi bisa dengerin talk show/sharing/semibar/etc. dari para invited speakers yang memang mumpuni di dunia tulis menulis. Tapi entahlah, tahun ini pokoknya fall in love aja sama children & youth program (CYP).



Setelah ikutan kegiatannya selama 3 hari (I was absent in first day due to another important event in my university), ternyata prediksi saya tepat sekali!



DI CYP, sya tugas dua kali sehari. Shift pagi sama sore. DI luar itu bisa ikutan event-event lain selama masih free. Dan itu banyak banget kok free programsnya, jadi gga usah takut bosen. Bisa juga cabs bentar kelilingin Ubud yang deket-deket. Kalau bolak balik Denpasar sih capek. Mending nikmatin eventnya aja kan. Haha.



What is nice di UWRF ini adalah kita bisa kerja bareng sama orang-orang dari mana aja. Volunteernya gga cuma dari Bali lho, ada yang jauh-jauh dari Makassar, Bandung, Jakarta, Jogja, Lombok, dan masih banyak daerah lainnya di Indonesia dan bahkan dari luar negeri. Dateng ke Bali buat ikutan UWRF!

Partisipannya pun demikian. Malah kayaknya banyakan orang luarnya daripada orang Indonesia, apalagi orang asli Bali sendiri. Padahal untu CYP, banyak juga acara free yang boleh banget di booking sama sekolah secara gretongan. Hums. Mungkin belum banyak orang Bali yang tau ya ada event se-kece ini di Bali :D



Well, denger namanya: Ubud Writers & Readers Festival mungkin kitanya langsung pada mikir ini acara buat para sastrawan doang. Tapi gga gitu juga kok. Walaupun bukan sastrawan, kamu suka baca kan? Ya baca status orang lah paling gga. Ehh. Dan walaupun gga suka nulis, paling gga mesti nulis jawaban essay pas UTS kan? :D


Di sini kita gga yang namanya dites kemampuan nulis atau harus kenal sama penulis yang diundang. Bebas aja sesuka hati kita. Pas jadi volunteer, yang penting inget sama shift, kerjain sesuai arahan. Palingan ngurus registrasi, bantuin speakernya siapin tempat, alat & bahan. Dengerin arahan speakernya, kalau dia butuh asisten maka kita asistensi. Selesainya kita rapiin lagi semuanya, balikin barang-barang ke tempatnya. DONE!

Selama acara kita bisa bantu-bantu di dalam, jadi kalau ada anak-anak yang malu berinteraksi atau pengen sama ortunya melulu, bisa lah bantu-bantu rayu dikit biar dia bisa have fun sama kegiatannya.

Terus juga disini kita ngelatih banget yang namanya kesadaran diri buat kerjain tugas kita dengan pengawasan seminimum mungkin. Jadi, kalau udah tahu ada tugas cus lah ke tempat kegiatan minimal 30 menit sebelum dimulai. Bantu-bantuin pembicaranya, peka sama anak kecil yang dateng dan mau ikutan program karena namanya juga anak-anak pasti malu-malu kucing kalau gga kitanya yang approach duluan. Kerjanya santai. Gga akan dimarah-marah supervisor karena kitanya setara aja kerjanya. Selesai tugas, makanan pun menanti di basecamp. Semuanya dilakukan dengan kesadaran sendiri. Good program to enhance your self personality, right?


That's why I love this program.




Sensasi rayu-rayu anak kecil biar mau ceria di kelas itu loh. :D



Terus juga karena anak-anak, kadang yang merasa udah bisa/paham sama kegiatan kan suka mendominasi, nah jadi volunteer itu bisa sekalian juga bantuin setting acaranya biar anak-anak ini bisa berbagi dan main/belajar bareng-bareng. So, nobody is left behind and no one also too dominate the class. Challenging kan yah :D

Silahkan itu teori-teori belajarnya (+teori hakikat manusia, filsafat ilmu, asas pendidikan, peraturan perundangan) apapun itu yang berbulan-bulan di bahas di kelas Pengantar Pendidikan, cuss dipraktekin :D


Kalau anak-anak udah nyaman sama kelasnya, suka sih saya tanya macem-macem. Ngapain dia, mau buat apa and so on. Saya suka aja dengerin anak-anak ceritain rencana mereka. Suka fantastik gitu.



Kayak pas di event Toy Story misalnya, setiap anak (boleh kelompokan) disuruh buat mainan sendiri. Terus ada tiga anak gadis cantik bule mana gitu lupa, yang ngambil kardus tebel. Salah satu anak itu masuk ke dalam dus, entah ngapain. Temen saya nanya ke saya, ngapain kira-kira anak itu. Entah kenapa saya mikir mereka mau buat rumah barbie :D



And they are!



Beneran buat rumah barbie.

Dan selesai acara, kardusnya dirapiin sama mereka di bawa pulang.
Katanya mau dibawa pulang ke negara mereka kakak.

Terus ada lagi anak yang malu-malu banget di awal acara, tapi akhirnya dia buat poster yang isi banyak gambar robot & monster. Dan ortunya bangga banget sama hasil kerjanya dan bawa pulang juga hasil kerjanya.

Rasanya bahagiaaaaa banget bisa liat wajah-wajah ceria anak-anak dan ortu yang puas dengan kegiatan yang berlangsung. Everyone say thank you for each other after the event. Sangat sangat membahagiakan sih buat aku. Sederhana banget ya the meaning of happiness for me :D :D

Tapi maaf ya di postingan ini foto kegiatan yang di publish dikit, banyakan selfie gga jelasnya haha. Habisnya saya khawatir juga sih sama isu privasinya anak-anak western yang ikut kegiatan, karena banyak juga yang gga mau di publish. Daripada menuai banyak kontroversi dan tuntut menuntut mending saya upload foto-foto cans saya ajalah meskipun kurang merepresentasi tulisan  wwkkwkwk.


















Ohya selain workshop buat anak-anak tadi, ada juga stand makanan dan buku, juga pameran lontar. Nah yang pameran lontar ini saya excited juga sih. Hihi. Di hari terakhir UWRF, akhirnya kesampaian buat belajar nulis di lontar. Kalau nulis aksara Bali bisa sih, tapi di kertas. Belum pernah yang namanya di lontar dan pakai pengrupakan. Hehe. So, it is sooooooo excited.




Overall, saya puas banget bisa terlibat di kegiatan UWRF 2016 dan tentunya pengen banget bisa ikutan lagi tahun-tahun berikutnya. Mudah-mudahan sih ada kesempatan, di tengah-tengah jadwalnya yang gga santai ini. Haha. Program berikutnya yang saya pengen ikutin mungkin book launch atau main program. Hm tapi CYP masih so much interesting for me. Masih ada waktu satu tahun buat mikir-mikir nih. Haha.

Selain itu juga tahun depan pengen stay aja di Ubud, gga usah bolak balik Denpasar. Huhu. Ini sih nunggu ijinnya kanjeng mami sama kanjeng papi duluk. Seru banget soalnya bakalan kalau malam-malam jejong di Ubud. Jalan kekong gitu keliling kota, masuk-masuk tempat makan es krim haha. UWRF 2016 gga cuma buat saya jatuh cinta sama yang namanya kerja volunteer tapi juga sama Ubud itu sendiri. Good place to live in. Aura-auranya pemirsah bawaannya pengen bahagia aja. Haha. Lupakah tumpukan deadline, email, ujian, tugas dan lain-lain yang mesti diperiksa dan diselesaikan. Let just eat gelato in a peaceful place called Ubud.

Mau ikutan keseruan ala-ala volunteer UWRF 2016?
Come and join UWRF 2017!!




Saturday, 8 October 2016

KONTRIBUSI XL PADA PENDIDIKAN: UPGRADE 4G, UPGRADE YOURSELF

KONTRIBUSI XL PADA PENDIDIKAN: UPGRADE 4G, UPGRADE YOURSELF

(Oleh: Ratih Ayu Apsari)



(sumber: http://assets.kompas.com/data/photo/2014/10/28/1433140xlbaru340x340.jpg)


Saya dan provider XL adalah teman lama. Kekasih lama mungkin. Walaupun mengkategorikan diri sebagai pasangan setia dalam hubungan keseharian saya, tapi untuk kasus sama XL, saya akui saya tipe yang mudah tergoda dengan iming-iming operator lain, coba sebulan dan kemudian balik lagi ke XL. Tipe-tipe gagal move on tapi doyan main api gitu. Haha. Kidding.

Saya kenal dan menggunakan XL sudah dari SMA. Jadi sudah more less 11 tahun bersama. Pertama punya handphone cuma bisa menggunakan provider CDMA, terus ganti yang GSM pas kelas 1 SMA. Dimulai dengan menggunakan provider lain yang terkenal di masanya, belum ada tiga bulan langsung hijrah ke XL dengan fiturnya yang terkenal kala itu: Jempol. Waktu itu Jempol XL memang jempolan banget. Saat operator lain tarifnya masih warbiyaaasah, Jempolers bisa isi ulang kartu dengan hanya 5 ribu rupiah saja dan gratis SMS bejibun. Oke, anak gauls kekinian di tahun 2005-an kan memang suka kirim SMS good morning, good day, good night, SMS berantai dan sebagainya yang bisa-bisa mengirimkan 100 SMS per hari. Pokoknya senam jempol lah masa-masa itu.


(sumber: https://noego08.files.wordpress.com/2009/08/logo_jempol.jpg)

Terus singkat cerita sampai masuk kuliah S1 tetap pakai XL. Nah, di masa kuliah ini lah pernah kecantol lagi sama yang lain. Jadi, XL jempol dan XL bebas sudah terintegrasi jadi satu waktu itu menjadi XL saja. Masih murah sih. Sinyal juga oke. Walaupun saya yang biasanya tinggal di Denpasar, selama kuliah tinggal di Bali Utara, daerah SIngaraja yang harus ngelewatin bukit dulu kalau dari Denpasar. Kenapa sempet berpaling? Kalau diingat-ingat ternyata pas ada gebetan/pacar yang promosi providernya, sayanya gampang banget tergoda. Haha. Tergoda orangnya iya, tergoda providernya iya. Tergoda bentar, terus balik lagi karena yang paling murah dan konstan murahnya ya XL. Jadi, paling males deh kalau ada promo murah dari suatu operator, udah dipake sebulan dua bulan terus balik mahal lagi. Hm. Balik lagi ke XL dan begitu seterusnya. Jaman kuliah memang labil masalah nomor handphone. Setahun sekali paling gga udah ganti. Haha.


(sumber: https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/1c/a9/92/1ca9921b399c15cdbafdffad055cf791.png)


Akhinya dari jaman skripsian fix pake XL dan gga pindah-pindah lagi. Providernya gga pindah-pindah lagi, tapi nomornya sempat ganti lagi. Haha. Sampai sekarang. Ya, anak labil yang pas kuliah suka ganti nomor handphone ini akhirnya jadi dosen juga sekarang. Dan berakhir sudah masa-masa beli nomor buang nomor ikutan promo. Haha. Gimana dong mahasiswa saya menghubungi kalau tiap dua bulan sekali nomor saya ganti?

Meskipun official nomor handphone saya sudah didaulat ke XL, bukan berarti pencarian saya berakhir. Handphone saya didukung oleh dual sim. Dan satu lagi ada iPad juga yang bisa dipasang kartu GSM. Jadi dosen itu ternyata lebih perlu banyak pulsa daripada pas jadi sosialita semasa kuliah yang kirim 100 SMS per hari :D Ada banyak SMS yang perlu dibalas meskipun jaman sekarang banyak ada platform chat yang bisa digunakan, tapi untuk kepentingan akademik dan komunikasi dengan mahasiswa saya lebih memilih via SMS. Dan yang paling penting buat saya adalah kuota internet. Saya menghabiskan kira-kira 10 GB untuk satu bulan. Dan itu beli pulsanya sakit banget. Banget banget.

(sumber: http://cliparts.co/cliparts/gie/oA4/gieoA4xBT.png)

Kita bahas satu-satu.

SMS. Cara komunikasi ini memang tidak sepopuler 10 tahun lalu, tapi masih merupakan alternatif dan saya masih sering menggunakan terutama untuk masalah pekerjaan. Akan tetapi perlu disadari karena tidak popular, jarang provider yang sekarang memberikan promo SMS kayak dulu yang bisa tumpah-tumpah seharinya. Haha. Sempat ngerasa boros banget karena menghabiskan pulsa 25ribu hanya untuk kepentingan SMS dalam seminggu lebih sedikit. Anggap sebulan tiga kali beli pulsa, maka 75ribu sudah melayang hanya untuk SMS. Belum telepon. Dan tentunya belum internet.

Sudah mau memanfaatkan slot kartu satunya di handphone saya buat pasang provider dengan tarif SMS murah, tapi ternyata setelah saya browsing sana-sini belum ada yang pas. Hufthh. Pas udah mau pasrah sama 75ribu/bulan untuk SMS saja, untungnya tangan saya masih yang penasaran sama *123# nya XL.
Hehe.

And what the!

Ternyata ladies and gentlemen, ada paket SMS murah banget dari XL. Hanya denga 10ribu rupiah saja, bisa buat 1500 SMS sebulan dengan rincian 1300 SMS ke sesama XL dan  200 ke operator lain. Wow. Ini sih wow banget. Mayoritas kontak saya memang menggunakan XL. Apalagi orang tua di rumah juga sama. Seringnya, sejak saya jadi dosen dan kembali merantau ke SIngaraja, saya suka telat balas SMS ortu gara-gara gga punya pulsa. Ortu memang gga main sosmed, termasuk aplikasi chat. Seringnya kalau gga bisa balas SMS, saya kirim chat ke group chat saya dan adik-adik dan minta mereka nyampein. Masalahnya, adik saya yang masih tinggal di rumah cuma 1 dan kalau weekdays, dari pagi sampai jam 6 sore di sekolah mesti wkkwkwk. Satu lagi juga lagi merantau studi. Jadilah, pas susah-susah gga ada pulsa, chat di group juga lagi pada gga di rumah atau gga ada pulsa juga buat sampein ke ortu, ortu mulai deh nyariin. Kan jadi bikin khawatir. Kalau ada 1500 SMS gratis dari XL, kapanpun bisa balesin SMS ortu. Hehe.





Fix. Untuk SMS, saya daftar paket 1500 SMS untuk satu bulan.

Telepon? Well, untuk saat ini saya tidak yang sedang dalam kondisi butuh menelepon sering-sering. Jadi paket telepon saya tangguhkan.

And the most important one: internet.

Saya tidak suka ketika tidak ada akses internet. Mau browsing susah. Mau chat temen susah. Mau sekedar upload apa gitu di sosmed susah. Berasa mendadak insom dan gegana ala teteh citacitata rasanya. Wkwkwk. Awal mula saya pulang ke Indonesia awal tahun 2015 dan mulai internet freak yang ngabisin 10 GB sebulan, saya pikir itu gara-gara saya pakai iPad yang layarnya gedong jadilah kuota yang kesedot lebih banyak. Well gga tau juga sih, apa iya gitu apa ini logikanya odong-odong :D Akhirnya saya pun pindahin segala sosmed dan komunikasi tools ke handphone yang dual SIM tadi. Terusnya si iPad jadi agak-agak gga fungsi karena gga bisa membiayai operasionalnya yang ngabisin 10 GB per bulan. Lumayan kenanya selalu di atas 150ribu dan apalagi setelah itu ada kenaikan tarif di perator yang bersangkutan. Yup, sim card yang terpasang di iPad saya memang bukan XL. Saya masih tahap pencarian tarif inet murah pas tahun 2015 silam.

Setelah pindah ke handphone, sebulan pertama ngerasa irit karena cuma ngabisin 4GB sebulan. Harganya 60 ribu. Ini masih bukan XL lagi, karena tergoda sama promosi temen. Jadi simcard saya yang lagi satu saya pakaikan operator itu, sementara XL buat non-internet needs. Bulan kedua mulai masalah baru dimana ternyata 4GB saya sudah gga cukup bukan sebulan, baru 3 minggu sudah abis. Bulan ketiga, kok ya baru 2 minggu sudah habis. Bulan keempat, kok harga yang 4GB 60 ribu sudah naik jadi 2GB 80ribu. Seminggu lebih dikitnya, kok ya kuota saya sudah habis …

Sampai disini saya cuma bisa sedih tapi tetep beli pulsa. Haha.

Tapi kali ini, pulsa XL. Xl punya hotroad yang 3GB harganya  60ribu, jadi masih lebih murah. Jadi provider satunya langsung gga fungsi. Cuma ya, 60 ribu buat 2 minggu dan itupun pemakaiannya terbatas, bikin saya masih merana. Saya sering banget yang namanya harus tethering ke laptop ataupun iPad saya. Untuk berbagai kepentingan kerjaan. Kurang banget sih kalau 3GB itu menurut saya. Bisa sih pakai paket lain yang lebih besar, tapi mbakjeng, pengeluaran saya membludak banget buat yang namanya pulsa. Tears. Apalagi pada saat itu masih kacau balau dengan pulsa buat SMS yang mencapai 75ribu/bulan, belum buat nelepon yang walaupun jarang-jarang tapi fix lah buat non-internet sudah 100ribu, sekarang buat internet 120ribu/bulan masih kurang.

Pas lagi desperate, gga sengaja liat pengumuman di halaman facebooknya kampus yang ada orang numpang promosi paket XL. Katanya berapa giga berapa gitu. Menggiurkanlah.
Karena tempat jualannya deket banget sama kampus, saya coba aja pulang ngajar ke sana. Sukses photocopy, yang di Jalan Dewi Sartika. Dan bertemulah saya dengan koko koko penyelamat pulsa saya. WKwkwkwkkw. Si koko nyaranin buat pakai XL paket Combo, 12 GB cuma 54 ribu. Tapi, handphone sama provider mesti 4G dulu.

Hmm.

Handphone sih support 4G, tapi kartu XL saya belum diupgrade nih ko!

Eh tunggu, XL sudah 4G di Singaraja? Seriusan?

Ketika saya nanya gitu sama koko, si koko meyakinkan kalau yes that is true! Dianya aja pake katanya. Sinyalnya oke banget, kata koko-koko baik hati itu. Terusnya koko fotocopy tadi nyaranin saya buat ke XL centre dulu yang di A. Yani. Upgrade kartu dulu, setelah itu boleh beli paket di tempatnya boleh juga langsung di XL centrenya.

Masih setengah ragu, sayanya nurut aja ke XL centre. Antriannya panjang banget sampe saya pulang dulu. Setelah makan siang kesana lagi, dan masih tetap rame. Wow! Apa semua orang mau upgrade ke 4G? apa cuma saya yang telah tahu kalau XL sudah memberikan layanan 4G di wilayah Singaraja?
Haha.

Akhirnya, kartu saya pun 4G!


(sumber gambar: http://harianti.com/wp-content/uploads/2015/02/XL-Luncurkan-Jaringan-4G-LTE-di-Surabaya.jpg)




Terima kasih mas-mas customer service XL yang bertugas. Pelayananya cepat dan ramah, walaupun sudah lewat jam kerja akibat banyak yang antre dan si mas nya nugas sendirian ditemenin pak satpam.

Saya juga langsung beli pulsa di sana dan langsung daftar paketnya. Well, kalau di koko tadi paket 12 GB nya 54 ribu, kalau beli pakai pulsa ternyata 59ribu. Bulan depan fix ke tempat koko! Haha.

Nah, paket XL 12 GB ini ternyata beneran super kombo kakak. Pertama, dia ngasih 10 GB buat jaringan 4G dan 2GB buat di jaringan 3G. Kedua, ada bonus nelepon 50 menit ke SEMUA operator. Ketiga, harganya di bawah 60 ribu. Keempat, masa aktifnya 30 hari.

WOW. WOW. WOW.

So, only 60 thousands rupiah for all I need!! Yippiiiie.

Eh tunggu, tambah SMS yang 10ribu tadi, jadi pengeluaran pulsa saya sebulan only Rp 70.000,00 !!!!!!

Pengiritan hingga 50% untuk masalah pulsa-pulsaan ladies and gentlemen.

Selain paket yang 12 GB tadi, masih ada paket-paket lainnya seperti pada gambar berikut yes.

(sumber gambar: http://s.kaskus.id/r480x480/images/fjb/2016/06/06/inject___isi_ulang_kuota_xl_combo_extra
_12gb_19gb_26gb__40gb_56gb_aktif_24_jam_sebulan_5247774_1465221573.jpg)

Oke sudah puas masalah harga, ayo kita bicara masalah performa.

Sebelum upgrade ke 4G, sinyal XL di kost-an maupun pas saya lagi di kampus suka datang dan pergi begitu saja. Kadang hilang plek plek sampai saya mesti cari-cari sinyal ala ala jaman labil: itu tuh handphonenya digoyang-goyangin ke atas. Tapinya, setelah upgrade 4G sinyalnya adem banget, konstan. Di singaraja oke, di rumah Denpasar oke.


can you see the 4G's logo?

Di balik sinyal yang cepat terdapat anak manusia yang kalem. Hehe. No more loading. No more buffering.

Termasuk juga pas lagi dipakai untuk support kegiatan perkuliahan. Di kampus memang ada WiFi, cuma ada gangguan gitu sama kabelnya atau apanya gitu sedemikian hingga sinyal tidak sampai ke ruang kuliah. Nah, pas kitanya lagi kuliah terutama salah satu mata kuliah yang saya ampu itu namanya Englihs for Mathematics II, in which we are integrating the use of technology in classroom activities, sering kesel gitu karena sinyal inet tidak support.

Jadi, tiap kuliah saya memang mengizinkan penggunaan handphone, tablet maupun laptop untuk kepentingan pembelajaran, misalnya untuk online dictionaries, specific term in mathematics, pronunciation checker, cek materi pra syarat atau sejenisnya. Jadi, mahasiswa bakalan bawa gadget yang ada koneksi internet dan kerja kelompok buat mendiskusikan materi yang diberikan. Konsekuensinya, dosennya full keliling kelas buat mastiin no one open the unrelated sites apalagi chatting di kelas. Haha. Ya sekalian menanamkan nilai tanggung jawab dan kemandirian belajar buat mahasiswa. Belajar bagaimana mengoptimalkan penggunaan teknologi secara positif, alih-alih terganggu dengan adanya teknologi di dalam kelas.


hello class!


Nah, pengalaman yang sudah-sudah, sinyal provider suka hilang juga di kelas. Jadi, kadang mahasiswa saya suka memandang saya dengan hopeless dan ganti coba koneksinya dengan tethering dari handphone temannya.
Saya pun sering juga kayak begitu, sampai akhirnya saya upgrade ke XL 4G hampir sebulan yang lalu. Ohya, sejauh ini saya masih punya 9 hari sampai masa aktif saya habis dan kuota saya masih 2.8 GB untuk di jaringan 4G dan 1.8 GB di jaringan 3G.
Hehe.

Overall, saya sangat puas dengan pelayanan XL dan mudah-mudahan bisa selalu ditingkatkan. Meskipun kesannya saya mau enaknya saja, minta murah minta bagus dan minta kuota melimpah, tapi terima kasih XL karena sudah memfasilitasi hal tersebut. Terutama karena kemudahakan aksesnya, saya jadi bisa dengan mudah menambah wawasan, browsing sana sini, tidak takut tethering lagi. Well, aktivitas saya jadi semakin positif untuk meningkatkan kualitas diri.


So readers, mau upgrade diri? Yuk mulai dengan upgrade kartu XL Anda ke 4G dan jangan lewatkan kemudahan akses informasi yang bikin kualitas dalam diri Anda menjadi upgrade juga.


*tulisan ini diikutsertakan pada lomba menulis blog yang diselenggarakan oleh kitaindonesia.com, didukung oleh XL dan Rumah Blogger Indonesia.