Number Game - Make Your Class Full of Fun!

Do you desire to organize the edurecreational classroom activity? This article might be satisfied you. :).

Visual Representation

The Non-Mechanistic Method to Solve The Linear Equation Related Problem For Your Little Students!

Broken Calculator Activity

Calculator seem to be forbidden tool in the classroom. Many parents and educators are afraid that their child will be over depend on it to do (even for) the small computation. This article might give you different point of view about how to use calculator to develop not just the pupils’ computational ability, but also number sense.

Introducing Linear Equation System For Grade 8 Students

Sometime we are tend to underestimate the students ability. We think that without give them a transfer material process, they wouldn’t able to solve any mathematical problem. However, we might be surprise with the informal strategies that emerge as their way in finding solution. RME give them chance to elaborate themselves more.

RME as The Approach to Create a Meaningful Learning Environment

The main idea of realistic mathematics is to emphasize the nature of mathematics as a human activity. Its mean, the students need to be active learner to discover and reinvent mathematics in a meaningful way.

Tuesday, 5 December 2017

KAMU MEMINTA, SHOPBACK KABULKAN: KOMPOR INDUKSI PHILIPS!

KAMU MEMINTA, SHOPBACK KABULKAN:

KOMPOR INDUKSI PHILIPS UNTUK HARBOLNAS, PLEASE!


Dear ShopBack, bantu saya belajar masak dong :)



Jadi ceritanya dari mulai pertengahan November kemarin ada kenalan saya yang promosi kompor induksi. Bukan, beliau bukannya jualan, tapi karena beliau adalah bagian dari BUMN yang bergerak di bidang jasa kelistrikan di tanah air, jadilah kampanye penggunakan kompor induksi untuk rumah tangga. Sampai ada lomba masak dengan kompor induksi segala.


Ini nih, Kak Eka Tirta Yana yang bikin saya penasaran sama kompor induksi

Bunda Niken, salah seorang peserta lomba masak yang bikin semakin pengen nyoba masak dengan kompor induksi


Begitu liat postingan-postingannya, terus terang saya langsung tertarik.

Bagaimana tidak? Satu-satunya alasan saya tidak rajin masak dan sampai saat ini masih memilih membeli makanan untuk kebutuhan sehari-hari adalah karena saya tidak berani menghidupkan kompor gas.

Haha.

Kok cemen?

Iya parno gara-gara si Ibu yang parno-an liat putri sulung-nya hidupin kompor gas. Terus ke-parno-an itu pun berlanjut sampai usia saya sudah tidak muda lagi.

Anyway, intinya gara-gara takut ngidupin kompor gas itu, saya jadi tidak bisa belajar masak secara mandiri. Kalau di rumah lumayan sering sih bantu-bantu Ibu, tapi ya segituan saja. Motong sayur lah, menghaluskan bumbu, bantu goreng-goreng tapi Ibu dulu yang nyalain kompornya. Kalau memasak sendiri ya tidak pernah.

Sekarang jadi anak kost berhubung bekerja jauh dari rumah, karena masih kebawa-bawa parno-nya, mana berani masak sendiri di kost. Belum lagi kalau masukkan tabung gas ke kamar yang kecil, rasanya tambah tidak tenang hidupnya. Alhasil saya pun lebih memilih beli makanan setiap hari.

Cuma belakangan ini saya lagi ingin menjaga pola makan. Mengingat usia yang terus bertambah, saya ingin mengganti makanan serba gorengan saya dengan lebih banyak sayuran, makanan-makanan olahan tradisional macam ubi dan singkong, dan sekali dua kali bolehlah coba membuat kreasi makanan sendiri dari bahan-bahan yang sederhana. Makanan-makanan ini lumayan susah buat dicari jaman now berhubung di lingkungan saya lebih banyak fast food dan aneka mie level-level yang sebenarnya saya suka sih. Cuma kalau terus-terusan begitu apa kabar penuaan dini.

Selain itu juga, semakin kesini saya makin sadar pentingnya bisa memasak untuk kebutuhan sehari-hari. Selain sehat karena sendiri yang menyesuaikan takaran, bahan dan menu sesuai dengan yang dibutuhkan tubuh, memasak sendiri juga lebih hemat. Iya, uangnya bisa ditabung untuk membeli keperluan sehari-hari lainnya. Dan kalau dihitung-hitung, jika nanti berkeluarga sedikit berhemat dengan memasak ini bisa jadi hemat banget!

Kalikan-kalikan saja jika satu orang sekali makan menghabiskan kira-kira Rp 25.000,00. Asumsikan punya dua anak (sesuai saran pemerintah) jadi sekeluarga itu Rp 100.000,00 sekali makan. Makan tiga kali, berarti Rp 300.000,00 sehari untuk makan saja. Belum lagi kalau anak pengen ngemil (*eh apa Ibunya sih ini kayaknya yah aha). Anggaplah sehari perlu Rp 400.000,00 untuk urusan makan dan ngemil. Sebulan berarti perlu dana Rp 12.000.000,00. Buat makan saja.

Lah, gaji saya berapa?

Mau dihemat dengan mengurangi makanan yang dibeli? Aduh nanti anaknya kurang gizi. Lebih repot lagi kalau suaminya jadi sering numpang makan di tempat lain. Haha.

Menyadari berbagai fakta tersebut, saya merasa kebutuhan belajar masak sudah tidak bisa ditunda lagi. Berhubung saya lihat kompor induksi ini tampilannya minimalis jadi tidak boros tempat dan yang paling penting tidak horor untuk ditaruh di kamar kost, saya pun jadi semakin antusias.

Nah, kompor induksi incaran saya adalah Philips HD 4932 yang bisa dibeli di Lazada (https://www.shopback.co.id/lazada).

Philips HD 4932 (akses pada: https://www.lazada.co.id/philips-hd-4932-kompor-induksi-hitam-18175913.html?ff=1&time=1512443292&sc=MRUD&rb=789)


Mengapa Philips HD 4932?

Pertama, tentu karena sebagai kompor induksi, Philips HD 4932 bekerja tanpa perlu tabung gas. Tinggal colok ke sumber listrik dan mari memasak :D

Kedua, konsumsi listriknya mulai dari 400 Watt saja yang berarti tidak bikin satu kost-an gelap gulita. Haha.

Ketiga, desainnya elegan banget. Yup. Sebagai seorang wanita muda pecinta barang imut tapi berkelas tapi terjangkau harganya, Philips 4932 HD itu seperti paket komplit. Sesuai selera tidak berat di kantong. Hihi. Apalagi ukurannya yang tidak boros tempat itu pasti sesuai banget untuk ukuran kamar kost.

Keempat, kompor ini bisa diatur untuk enam jenis pengaturan suhu, tinggal disesuaikan apa sih yang lagi di masak.

Kelima, dari hasil menjelajah review orang-orang yang sudah menggunakan kompor induksi satu ini, ternyata waktu yang diperlukan untuk memasak lebih cepat dari yang diperlukan kalau kita pakai kompor gas.

Keenam, Philips HD 4932 ini juga punya layanan Child Lock yang bikin kompor ini tetap aman walaupun ada anak-anak yang usil di sekitar kita suka ikut mencet-mencet tombolnya. Ya memang sih saya belum ada anak, tapi kompor induksi ini kan saya rencanakan untuk bisa digunakan sampai beberapa tahun ke depan, ya mudah-mudahan aja waktu itu sudah ada anak lah. Haha.

Gitu tuh enam alasan kenapa jatuh cintanya sama Philips HD 4932. Sebenarnya ada kompor induksi lain yang lebih murah sih, tapi berhubung saya ini newbie lah pokoknya di bidang masak memasak jadi pengen pakai yang pasti aman. Philips sendiri kan sudah masternya perangkat elektronik jadi untuk saya sih lebih baik saya investasi di kompor yang tahan lama kayak Philips 4932 ini.


Nah, kompor induksi Philips HD 4932 sebenarnya ada yang menjual secara offline, hanya saja harganya jauh lebih mahal dan tidak ada hadiah pancinya. Haha. Belum jadi ibu-ibu  tapi mental gratisan pancinya sudah diasah ya. Nah, kalau di Lazada ini, Philips HD 4932 dibandrol dengan harga di bawah satu juta rupiah dan ada bonus panci itu tadi yang bisa langsung digunakan untuk masak.

Kan tahu sendiri kalau masak pakai kompor induksi tidak bisa pakai sembarang panci. Mesti cari yang ada magnet katanya. Dengan membeli kompor yang gratis panci, jadi lebih hemat kan. Hihi. Itulah kemudahan jaman sekarang dengan adanya platform belanja online yang memudahkan calon pembeli suka diskon dan bonus seperti saya.

Saya sendiri memang suka membeli barang secara online khususnya di Lazada, karena saya kurang bisa nawar jadi jarang belanja di toko yang harganya belum pas. Selain itu juga saya orangnya engga terima kalau harus beli barang yang lebih mahal untuk jenis yang sama.

Kalau secara tradisional, bisa lah ya kita muter-muterin kota dan masuk dari satu toko ke toko lain. Tapi berhubung saya suka pusing kalau kepanasan di jalan, opsi keliling-keliling cek harga ini harus dieliminasi. Untungnya kemudian perkembangan teknologi membawa kehadiran situs belanja online yang bikin kita bisa eksplorasi dan membandingkan harga tanpa harus berpanas-panas.

Awal-awal kemunculan toko online sih pernah kena zonk semacam barang yang dibeli tidak sesuai dengan yang difoto. Huhu. Tapi lama-lama, banyak perbaikan yang dilakukan penjualan online. Apalagi setelah adanya lazada, saya beli barang elektronik dengan harga yang cukup tinggi pun sudah biasa lewat situs online satu ini. Hihi.

Saya pikir berbagai inovasi yang dilakukan lazada sudah cukup baik selama ini. Pelayanannya bagus, cepat, terpercaya, mudah metode pembayaran dan memberikan garansi pembelian produk. Belum lagi sering adanya diskon dan bonus yang pastinya akan sangat memuaskan pelanggan.

Dulu waktu saya di Belanda, saya ingat ada satu hari belanja murah yang disebut dengan Black Friday, dimana diskon yang diberikan tidak tanggung-tanggung. Diskonnya bukan jenis tipu-tipu yang dinaikin dulu baru didiskon. Hihi. Pada saat itu saya langsung membandingkan dengan jenis diskon yang sering ada di Indonesia. Iya, yang dinaikin dulu baru didiskon. Tak jarang harga setelah diskon tadi malah jadi lebih mahal dari harga regular. Merugikan konsumen bukan?

Eh tau-tau kemudian balik-balik ke Indonesia sudah ada yang namanya Harbolnas, Hari Belanja Online Nasional yang menjawab "ke-iri-an" saya pada konsep Black Friday. Dan tentu saja, platform belanja online favorit saya yaitu Lazada, yang terdepan dalam memberikan banyak pilihan produk, diskon yang tidak main-main, dan masih ada promo gratis ongkir!

Well buat saya yang tinggal tidak di sentra bisnisnya Indonesia, kena ongkos kirim yang sekitar 30ribu-an per kilogram itu does matter juga lho. *Ini contoh shopaholic dengan budget pas-pasan kali ya. Suka belanja, mau harga termurah, mau diskon, mau banyak bonus dan masih mau gratis ongkir. Haha. Iya saya mah gitu orangnya.

Jadi, jadi, jadi, saya memang antusias banget kalau sudah Bulan Desember karena sebentar lagi, tepatnya di tanggal 12 Desember, Harbolnas akan dimulai!


Beli kompor induksi Philips berhadiah panci pas Harbolnas? Yes! I'm more than enthusiast!

Tapi ternyata tidak hanya itu yang bisa saya dapatkan.

Saya baru-baru ini tahu kalau sudah ada ShopBack, sebuah start up digital yang memberikan program hadiah uang kembali (cash back) kepada konsumennya.

Apa?

Iya, jadi dengan Shopback kita bakal dapat harga yang lebih murah lagi setelah membeli barang di toko langganan kita yang bekerja sama dengan ShopBack. Salah satu toko online yang terlibat dengan ShopBack adalah Lazada. Daftar toko lainnya (total 173 toko) bisa dicek di: https://www.shopback.co.id/semua-toko

Proses kerjanya pun mudah sekali, tinggal lakukan pendaftaran ke ShopBcak yang bisa dilakukan dengan memasukkan alamat email atau akun facebook saja. Setelahnya tinggal buka toko yang dicari melalui website ShopBack dan masuk kesana. Belanja seperti biasa dan bayar sesuai harga yang tertera. Dalam waktu yang ditentukan, uang Anda akan kembali sesuai yang disepakati.

Ribet?

No no.

Contohnya nih, seperti promonya ShopBack yang berlaku dari tanggal 4 - 10 Desember 2017 (bisa cek di sini: https://www.shopback.co.id/promo-hari-ini).

Misalnya nih mau beli powerbank yang harga aslinya Rp 75.000,00 di Lazada (lihat gambar promonya di bawah). Kemudian dengan promo dari ShopBack, powerbank ini bisa didapatkan hanya dengan Rp 5.000,00 saja!

"Promo Hari Ini" Periode 4 - 10 Desember 2017


Nah, di awal, kita tetap harus transfer sesuai harga yang tertera yaitu Rp 75.000,00. Di tanggal yang ditentukan (misalnya di periode ini adalah 25 Desember 2017), uang kita yang lebih Rp 70.000,00 tadi akan masuk ke akun ShopBack kita dan dapat dicairkan ke rekening bank kita.

Kebayang tidak sih beli power bank cuma Rp 5.000,00 ?

Hihi. Tapi program promo cash back gila-gilaan ini cuma untuk pembelian pertama kita di ShopBack dan khusus untuk barang-barang yang ada di halaman promo tersebut. Adapun untuk pelanggan lama bisa ikut program lainnya yang pasti tetap bikin uang yang dikeluarkan untuk barang yang sama bisa jadi lebih sedikit.

Nah jadi jadi jadi, melihat peluang mendapat harga yang lebih murah lagi saat Harbolnas dan ditambah belanjanya melalui Shopback, dari sekarang sudah ancer-ancer nih. Tanggal 12 Desember nanti kudu musti banget cek notifikasi email yang ngabarin kalau daftar diskon dan voucher promonya sudah keluar.

Kalau kalian juga pengen beli kompor induksi dengan berbagai kemudahan dan penuh diskon, bonus dan uang kembali seperti saya juga, langsung saja buka websitenya ShopBack di https://www.shopback.co.id/ kemudian pilih toko yang kalian mau. Atau bisa langsung juga ke: https://www.shopback.co.id/semua-toko.

Nah, kalau mau yang bonus panci dan harganya paling murah tapi tokonya terjamin, coba cek di Lazada seperti yang saya lakukan. 
Sebagai bocoran, cash back yang ditawarkan lazada sampai 16,5% lho. Penasaran? Coba kunjungi sendiri melalui link: https://www.shopback.co.id/lazada.

Nanti akan masuk ke halaman dengan tampilan sebagai berikut.

Tampilan Halaman ShopBack Lazada



Kemudian pilih kategori barang yang diinginkan dan mulailah berbelanja. Kalau mau kompor induksi, tentunya pilih di kategori yang ada "elektronik"-nya ya guys! Kalau mau yang lain silahkan sesuaikan kategorinya.



Promo untuk Barang Elektronik


Sulit?

Lebih sulit mana hayoo daripada panas-panasan survey harga. Hihi.

Jangan sampai kelewatan prompo Harbolnas dari ShopBack ya!


Selamat Hari Belanja Nasional!





==========================================





Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti kontes blog "Kamu Meminta, ShopBack kabulkan" 2017


Monday, 6 November 2017

Mencuri Hati Dosen

MENCURI HATI DOSEN

(Oleh: Ratih Ayu Apsari)


Mencuri hati dosen? Provokatif sekali judulnya yes. Tapi gga usah berpikir yang iya iya dulu karena tulisan ini gga lagi ngajarin kamu-kamu semua buat bikin dosen kamu cinta-cintaan sama kamu terus jadi pacaran *apa sih.

Sebelum salah fokus dan kemana-mana, tulisan ini adalah self reflectionnya dosen muda macem saya yang jatuh hati sama mahasiswa (-mahasiswa nya) yes.


PS:
When I say "mahasiswa", it refers to mahasiswa & mahasiswi yes. No gender discrimination in my classroom, gga ada istilah yang ganteng dapet A yang cantik dapet C yes. Menurut saya cantik sama pintar itu bukan perbandingan berbalik nilai. Gga ada yang salah dari orang yang dari lahir sudah cantik fufufuufu. 




Picture Source: https://www.istockphoto.com/vector/female-lecturer-winking-with-pointer-stick-gm176605885-26338330?esource=SEO_GIS_CDN_Redirect

Oke so, setelah hampir dua tahun menandatangani kontrak di kampus dan fix jadi dosmud, ada banyak hal yang saya amati dan pola-pola yang ternyata gga jauh beda lah sama jaman-jamannya saya yang jadi mahasiswa.

Pertama, kalimat kalimat hiburan yang suka bikin senyum-senyum sendiri, contohnya: "kalau dosennya muda gini mau dong jadi mahasiswa lagi" itu totally sepik-sepik aja karena mau yang ngajar dosen senior atau yang muda fresh gress udah kayak bolu baru keluar dari oven, yang niat bolos yaa keep calm and stay bolos shaay. Haha. Di kelas juga sama, salah fokus masih jadi judul utama. Ya begitulah begitulah begitulah.

Kedua, mahasiswa juga masih suka dengan pola-pola kebut-kebutan semalem yang kadang bikin dosennya bete karena kerjaan jadi gga maksimal. Bukannya mau sok sih, tapi dosen kan lahir duluan dan karenanya ngalamin yang namanya kegiatan perkuliahan duluan. Dulu udah pernah tau rasa susah karena males belajarlah karena belajarnya H-1 (1 jam maksudnya), atau udah ngerasain karma langsung dari menyia-nyiakan masa muda buat pacaran sama drama haha.

Nah udah tau kayak gitu sebagai pendidik, gga mungkin banget kan ngebiarin anak-anaknya jatuh ke lobang yang sama? Ya walaupun saya belum punya anak tapi saya kan ke-ibuan orangnya.

fufufuuu.

Intinya, apapun yang dilakukan dosen kamu dan kamu ngerasa susah karena itu, percaya deh sebagai pendidik, dosen kamu cuma gga mau kamu gga siap bersaing di pasar global. Kita hidup di abad 21, gga bisa lagi jadi orang dengan skill 90-an. Gga bisa lagi cuma sekedar mengandalkan relasi, atau wajah cantik/ganteng, atau kekayaan ortu. Kita hidup di era persaingan terbuka. Butuh pemikiran yang cetar membahana badayy, skill kemandirian hidup dan kemampuan ketahanmalangan untuk bisa betahan. Yang kuat yang bertahan, tapi tidak hanya itu, yang kuat yang membantu yang lainnya.

Oke skip bagian ceramahnya, you don't really need it right now, do you? :D

Saya paham sih saya bukan dosen idaman mahasiswa saya. Habisnya selain suka telling them do(s) & don't(s), saya juga lumayan cerewet sedemikian hingga paper mahasiswa saya hampir selalu isi coretan buat direvisi. Selain itu suka nge-deadline juga, lembar penilaian detail, dan kertas ujian sering isi komentar-komentar penuh cinta semisal belajar lagi yang baik kah, atau jawban materi ini bisa dilihat lebih lanjut di sini lah, dan seterusnya, yang saya sangat pahami, tidak disukai semua orang. Terlepas dari tujuan saya yang sebenarnya baik.

Dan saya rasa, saya bukan single fighter dalam kasus ini. Pastinya banyak dosen lain yang merasakan hal yang sama. Jadi, saya tidak akan banyak mengeluh.

Well then, walaupun toh saya sadar tidak selalu disukai, saya selalu objektif memberikan penilaian. Mau dia sentimen sama saya (i.e. postingan saya gga pernah di like *ehh) atau kebalikannya selalu "keliatan" baik sama saya (i.e. postingan saya tidak pernah tidak di komen, like, share), mereka akan dinilai dengan transparan, adil dan objektif sesuai dengan kaidah penilaian yang berlaku. 

Oleh sebab itu, apa yang kira-kira akan mempengaruhi penilaian dosen yang kurang lebih kelakuannya sama dengan saya?

First, proses belajar yang bersangkutan selama di kelas. Apakah mereka diskusi ketika waktu diskusi? Apakah yang diobrolin sejalan dengan topik yang diminta? Atau justru ketiduran di kelas padahal gga paham sekali. Um, saya paham sih jam kuliah kadang kepagian atau justru di jam tidur siang yang indah atau malah kemaleman. But, hold on dear! You can do it!

Kedua, gimana yang bersangkutan dalam mengumpulkan tugas. Ada effort kah? Atau sekedar ngumpul? Ya kalau tugasnya buat esai 4 halaman, gga perlu digandakan sampai 40 halaman sih. Tapi 4 halaman yang berbobot dan berdasar. Tidak asal klaim, copy-paste, kliping. Apalagi kalau buatnya yang cantik gitu. Marginnya rapi, indentnya jelas, spasinya runut, font type dan size nya ideal, ada footer dan halaman. Siapa yang tidak ingin baca papernya kalau sudah begitu? Bandingkan dengan yang sekedar kumpul tugas. Kliping sana sini kemudian fontnya bisa ada beda. Malah yang lebih parah screenshot-an di tempel-tempel begitu saja.

Ketiga, aktif bertanya. Walaupun kalau kata yang suka nyinyir itu cari muka, tapi kalau memang ada hal yang ingin kalian tanyakan, tanyakan saja jangan malu. Dosen jaman now itu suka kok kalau ditanya. Apalagi ditanya mau dibayari makan engga. Haha. Kidding. Misalnya kalian tahu dosen A interest di topik yang juga kalian ingin pelajari. Trust me, when you ask him/her about something you have no clue at, he/she will appreciate you. Cuma ya kalau mau nanya kita juga engga boleh males. Misalnya, "Pak/Bu saya tertarik dengan pendidikan, apa ya judul seminar yang bagus? Saya mau maju semester ini." Ya siapa juga yang gga kesal ditanya begitu. Coba kalau browsing dulu minatnya apa secara spesifik terus kendalanya dimana. Misalnya, "Pak/Bu, saya ingin angkat tentang Pendidikan Matematika Realistik untuk SMP. Saya kemarin lihat tesis Bapak/Ibu sesuai, ada kutipan didalamnya dari tulisannya Gravemeijer yang saya rasa akan sesuai dengan yang ingin saya pelajari. Saya lihat itu ada di Taylor & Francis, cuma berbayar. Kira-kira apa Bapak/Ibu masih punya file jurnal itu? Boleh saya baca?" Manis tidak jadinya? Ya gitu kira-kira.

Keempat, belajar yang baik sehingga nilai tes nya gga bikin dosen susah untuk bantu. Bagaimana menjadikan anak yang berbudi pekerti luhur ini dapat nilai A kalau hasil tesnya gga lewat-lewat dari 20 sementara mahasiswa lain bisa ada yang dapat 90. Sulit bukan?

Kelima, yuk belajar komunikasi lisan dan terutama tertulis. Dosen bukan gila hormat, tapi siapa juga yang gga kesal kalau ada sms masuk jam 12 malam cuma mau bilang kalau revisian sudah tadi sore dikirim lewat email. Atau ada sms jam 1 pagi mau nanya besok paginya bisa konsultasi atau engga. Benar kan?
Pas awal-awal ngajar pernah kesel banget sih sama yang gini-gini, tapi lama-lama yaudah saya blokir saja orang-orang yang sudah ditegur tapi masih kirim pesan tengah malam. Hehe.

Apalagi ya?
Kalau kepanjangan nanti dosennya dibilang cerewet lagi. Haha.
Siapa tahu setelah ini ada mahasiswa yang nulis blog balasan: Mencuri Hati Mahasiswa - Apa sih yang Perlu Dilakukan Dosen Supaya Jadi Kesayangan Mahasiswanya.

Who knows :)

Monday, 24 April 2017


“SAYA DOSEN YANG BAIK”
(SEBUAH REFLEKSI)






  

OLEH:
RATIH AYU APSARI
NIR. 2016.5.165





Makalah Memenuhi Tugas Pendidikan dan Pelatihan Dosen Muda Pola 90 Jam Diselenggarakan Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan  Mutu Undiksha pada tanggal 29 Juli 2016


 Dosen Pengampu:
Prof. Dr. A.A.I.N. Marhaeni, M.A.



JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
2016


=====================================================================



SAYA DOSEN YANG BAIK

“Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, karenanya jadilah dosen di hati mahasiswa bukan dosen di mata mahasiswa.” (Prof. Dantes, 2016)


Profesi pendidik sepertinya memang ditakdirkan untuk saya. Terlahir sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, sejak kecil saya terbiasa mengambil peran sebagai “guru” bagi adik-adik saya untuk masalah pelajaran sekolah. Tak hanya saudara kandung, tetangga sekitar rumah yang berusia lebih muda juga sering ke rumah untuk belajar bersama. Meskipun pada saat itu saya belum mengetahui cara mengajar yang baik, tapi paling tidak saya sudah berusaha untuk membagi yang saya miliki. Saya percaya, hakikat dari berbagai bukanlah seberapa banyak yang bisa saya berikan kepada orang lain, tapi setulus apa saya memberikan yang saya miliki pada orang lain. Seiring bertambahnya pengalaman, saya memaknai bahwa menjadi pendidik, menjadi guru, menjadi dosen, bukan hanya masalah menjadi pandai dalam bidang ilmu tertentu. Bukan pula mengetahui cara memberikan ilmu yang dimiliki kepada orang lain. Lebih dari hanya memberi, mendidik adalah menginspirasi, memotivasi, membagi yang dimiliki, membuat inovasi, mengamalkan pengetahuan yang dimiliki, menjadi panutan, memberi teladan, membudayakan kebajikan, menanamkan kepekaan sosial. Pendidikan adalah hal yang sangat kompleks dan karenanya menjadi seorang pendidik, utamanya menjadi dosen, merupakan tanggung jawab yang kompleks. Dari segi keilmuan maupun sosial.
Faktor pertama yang akhirnya mendorong saya untuk menjadi seorang pendidik adalah orang tua, khususnya Ibu saya. Ibu adalah tokoh yang paling berjasa dalam mengasah minat dan bakat saya dalam membantu orang lain untuk belajar. Ibu tidak mengetahui teori mengajar secara formal karena bukan lulusan sekolah mengajar, akan tetapi Ibu saya memberikan kesempatan pada saya untuk learning by doing. Walaupun kemampuan saya tergolong biasa-biasa, Ibu selalu mendorong saya untuk berani mengajarkan adik saya membuat pekerjaan rumah, memahami isi buku pelajaran dan terutama menjelang ulangan harian dan ulangan umum. Dibandingkan mendaftarkan anak-anaknya pada bimbingan belajar yang memang pada saat itu merupakan sebuah trend baru yang semakin lama semakin menjadi hal yang nyaris wajib bagi sebagian besar orang tua teman-teman saya, Ibu lebih memilih untuk mengoptimalkan pembelajaran di rumah. Belajar bersama di malam hari setelah makan malam selalu rutin kami lakukan sampai adik saya yang pertama menyelesaikan jenjang pendidikan dasarnya. Setelahnya, ia sudah lebih mandiri dalam belajar dan hanya akan bertanya beberapa materi yang tidak bisa ia pahami sendiri dengan membaca.
Bertahun-tahun setelahnya, saya mendengar salah seorang guru saya di sekolah menengah mengutip sebuah pepatah Cina yang isinya: saya mendengar maka saya lupa, saya melihat maka saya tahu, saya mengerjakan maka saya paham. Ditambah lagi, ketika mengenyam pendidikan tinggi di UNDIKSHA, saya mendengar salah satu professor saya di salah satu mata kuliah awal yang membahas keterampilan mengajar menyampaikan bahwa belajar dengan cara berbuat langsung atau terlibat langsung (learning to do) akan sangat efektif untuk mengkonstruksi sendiri pemahaman seseorang. Selain itu, mampu membahasakan kembali suatu pengetahuan dengan bahasa sendiri (tidak mengulang pernyataan buku secara hapalan tanpa memaknai ulang) adalah kompetensi berpikir tingkat tinggi dan dapat digunakan sebagai salah satu metode dalam belajar. Hal ini diistilahkan dengan belajar melalui mengajar. Secara formal, saya memang baru mengetahui istilah tersebut, akan tetapi secara kebermanfaatan Ibu saya sudah mencontohkannya.
Akan tetapi, tidak semua hal yang menjadi pengalaman mengajar sederhana saya di masa lalu adalah hal positif. Saya sadar betapa saya tidak mengajarkan kedua adik saya dengan optimal. Sebelum saya menekuni bidang pendidikan matematika secara formal di UNDIKSHA, saya berpatokan pada diri saya sendiri terkait bagaimana seseorang sebaiknya belajar matematika. Oleh karenanya, saya sering bersikap keras kepada adik-adik saya yang saya temani belajar matematika. Setelah berproses untuk menjadi pendidik matematika, saya baru menyadari bahwa implikasi dari cara mengajar matematika yang tidak memperhatikan pengetahuan awal seseorang dan menganggap setiap orang dapat belajar dengan cara dan porsi yang sama adalah saya (sebagai pendidik) menjadi cepat marah, tidak sabar dan tidak mengharagi keunikan individu dalam belajar. Hal-hal negatif tersebut, tidak seharusnya dipertahankan dalam pembelajaran karena akan menimbulkan ketidakengganan mahasiswa untuk belajar.
Dosen yang baik pada abad ini adalah yang dapat menggugah mahasiswa untuk belajar karena dapat memberikan rasionalisasi mengapa mereka perlu belajar. Hal ini disebabkan karena telah terjadinya pergeseran nilai dalam kehidupan bermasyarakat, dimana peserta didik tidak lagi belajar karena takut dengan pendidiknya melainkan lebih karena mereka mengetahu kerbermaknaan yang telah diperoleh apabila mereka melakukannya.
Baru sekali ketika mengikuti materi tatar dari Prof. Dantes pada kegiatan PPDM ini, saya mendengar konsep yang serupa. Bahwa manusia di abad millennium ini berorientasi pada rasionalisasi dan karenanya pendidikan yang diperlukan adalah yang dapat menjembatani mereka untuk menjadi manusia yang mengalami proses memanusiakan diri, yang secara bermartabat tahu makna dari segala tindakan yang dilakukannya. Implikasinya, apabila ingin menjadi dosen yang baik, saya perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengalami sendiri pengalaman belajarnya. Dosen yang baik adalah yang tidak menganggap semua individu dapat dicekoki pengetahuan melalui transfer, tapi melalui transformasi dalam suatu pembelajaran sarat makna dan “kaya”.
Istilah “kaya” dalam pembelajaran saya dengar dari professor-professor saya di Utrecht University yang selalu menekankan bahwa pembelajaran yang kering adalah yang hanya membuat siswa mendapat paling banyak satu kompetensi dalam pembelajaran: hanya sekedar tahu. Tahu yang ketika pulang sekolah nanti, dengan cepat akan terlupakan olehnya. Pembelajaran yang kaya adalah yang mengoptimalkan proses eksplorasi dan elaborasi, misalnya dalam pembelajaran matematika, yang mengaitkan matematika dengan kehidupan sehari-hari, yang mengaitkan satu konsep dengan konsep lain sehingga tidak terkesan berdiri sendiri, yang mengaitkan matematika dengan cabang ilmu lain sehingga terlihat kebermanfaatan dan sekaligus kekuatan dari ilmu yang dipelajari. Dari sini, saya memaknai dosen yang baik adalah yang mempersiapkan pembelajarannya dengan baik. Materi ajar boleh sama, tapi pengemasan dengan ceramah (telling) dan dengan penemuan kembali secara terbimbing (guided reinvention) akan menghasilkan pengalaman belajar berbeda dan luaran yang berbeda.
Pada akhirnya selain faktor kebiasaan mengajarkan saudara-saudara saya di masa kecil, lingkungan sekolah juga memantapkan niat saya untuk menjadi guru. Banyak teman-teman saya yang saya lihat mengalami kesulitan dalam belajar matematika. Sebegitu sulitnya sampai membenci mata pelajaran ini. Sebegitu bencinya hingga takut berhadapan dengan guru matematika di kelas. Ketika duduk di kelas XII SMA, ada tiga pelajaran di bidang MIPA yang saya kuasai dengan cukup baik: biologi, kimia dan matematika. Dari ketiganya, yang paling banyak telah saya pelajari adalah biologi. Akan tetapi, ketika menentukan jurusan, saya sampaikan kepada orang tua saya bahwa saya akan memilih matematika. Alasannya, karena matematika adalah salah satu mata pelajaran yang masih ditakuti orang, sehingga tidak banyak yang mau untuk belajar mengajarkannya. Belum lagi banyak guru matematika yang terkenal killer, tidak boleh ditanya dan tidak boleh dibantah. Belajar untuk paham saja sudah sulit, apalagi untuk bisa mengajarkan ke orang lain. Saya, meskipun bukan yang tergolong yang paling pintar matematika di kelas pada saat SMA, masih bisa mengikuti pembelajaran dengan baik. Oleh karenanya, saya berpikir biarlah saya yang belajar bagaimana cara mengajar matematika. Saya akan belajar bagaimana mengajar matematika yang tidak menyebabkan peserta didik saya terbebani. Sehingga kesulitan yang saya dan teman-teman alami semasa kuliah tidak dialami lagi oleh generasi setelah kami.
Memiliki pola pikir yang tidak suka “balas dendam” ini ternyata merupakan salah satu modal yang baik untuk menjadi pendidik. Pada prinsipnya, beberapa orang berpikir dulu saya susah, mengapa sekarang orang lain bisa mudah? Akan tetapi dalam pendidikan, seorang pendidik perlu memiliki sikap inovatif apa yang dapat saya lakukan untuk berkontribusi pada perkembangan lingkungan belajar yang lebih? Saya percaya bahwa pendidik yang baik bukanlah yang sekedar memiliki sederet piala penghargaan menjadi pemenang olimpiade, tetapi berapa banyak anak didik yang bisa dihantarkan untuk memperoleh hasil yang optimal sesuai kemampuannya. Entah itu menjadi pemenang olimpiade atau lulus dalam tes di tempat yang ia inginkan atau hal sederhana yang sama sekali tidak sederhana: jatuh cinta pada ilmu yang ia pelajari. Oleh karenanya, sebagai seorang dosen, saya bertekad untuk memberikan ruang bagi mahasiswa saya untuk bisa merasa nyaman ketika belajar, nyaman ketika bertanya dan nyaman ketika memberi pendapat. Dengan demikian, jika mereka terbiasa belajar dalam iklim akademik yang baik, ketika menjadi guru nantinya mereka akan menerapkan hal yang sama bagi peserta didiknya. Implikasinya, jika satu orang mahasiswa saya nantinya akan (misalnya) mengajar di 6 kelas dalam satu semester, dan satu kelasnya terdiri dari 35 orang (bahkan lebih mengingat masalah kelas besar di Indonesia), akan ada setidaknya 210 siswa yang mendapat pembelajaran lebih baik setiap semesternya. Itu baru dari satu mahasiswa, jika setiap tahunnya saya mengajar 4 kelas yang masing-masing berisi 25 orang, saya memiliki 100 orang mahasiswa. Ada setidaknya 21.000 siswa Indonesia masa depan yang setiap semesternya akan memperoleh pengalaman belajar yang saya harap lebih baik dari pengalaman belajar saya dan teman-teman saya di periode yang lampau.
Mengajak mahasiswa untuk bersikap akademik tentu tidak bisa dilakukan dengan hanya menyuruh. Sebagai dosen yang baik, saya sadar betul saya perlu mengkondisikan pembelajaran yang mendukung tercapainya pembudayaan nilai-nilai yang diharapkan. Saya banyak belajar dari dosen-dosen saya di Belanda bagaimana pengkondisian yang dilakukan agar saya dan teman-teman sesama mahasiswa Indonesia yang terkenal diam, bisa menjadi lebih aktif dan berani untuk unjuk diri secara akademik. Berikan pertanyaan, tanyakan pendapat mahasiswa, jangan cepat menyalahkan dan memotong pendapat mahasiswa. Apabila tidak ada yang bersedia menyampaikan gagasan, tunjuk satu-satu hanya agar mereka berani berbicara. Bahwa tidak apa-apa untuk memiliki gagasan sederhana. Bahwa tidak ada benar salah dalam belajar. Bahwa tidak memalukan walaupun berbicara dengan bahasa Inggris yang terpatah. Bahwa tidak ada masalah memiliki sudut pandang berbeda. Bahwa tidak masalah apabila pemahaman dalam menjawab masalah belum sampai finish.
Selain mengkondisikan, memberikan teladan adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan. Bagaimana mengajak mahasiswa untuk menghargai orang yang sedang berbicara di depan kelas, jika setiap mengikuti seminar, dosennya sendiri sibuk berbicara di luar topik dengan orang di sebelahnya? Bagaimana meminta mahasiswa untuk berani berpendapat, jika dosennya sendiri ciut nyalinya di forum akademik? Bagaimana meminta mahasiswa aktif belajar, jika dosennya sendiri enggan mengembangkan kualitas diri, enggan penelitian, enggan unjuk hasil penelitian? Bagaimana meminta mahasiswa menjadi kritis, jika ketika mahasiswa bertanya dosen sudah menunjukkan tanda-tanda tidak suka? Dari sana saya belajar, menjadi dosen yang baik adalah dosen yang menerapkan falsafah Tri Kaya Parisudha dalam memberi kesempatan mahasiswa berproses. Dimulai dari pikiran, ide-ide, gagasan yang baik, diucapkan dengan santun dan memotivasi dan dicontohkan melalui praktek yang sesuai. Sehingga terjadi konsistensi antara apa yang ada dalam nurani, apa yang diucapkan dan apa yang dilaksanakan.

Sebagai simpulan, bagi saya dosen yang baik adalah dosen yang terbuka terhadap kritik. Dosen yang baik adalah yang jujur terhadap ilmu pengetahuannya. Dosen yang baik adalah yang tidak selalu merasa benar. Dosen yang baik adalah yang berintegritas terhadap komitmennya untuk mencerdaskan bangsa. Dosen yang baik adalah yang memberikan teladan. Dosen yang baik adalah yang tidak pernah berhenti belajar. Dosen yang baik adalah dosen yang ada di hati mahasiswa.





*dishare hampir setahun setelahnya, sebagai self reminder, sudahkah menjadi dosen seperti yang diharapkan oleh dirinya sendiri.

Sunday, 16 April 2017

[cinTs]

[cinTs]: Eat, Gosip, Gosip

Biasa ya kalau banyak kerjaan, pasti males ngerjain yang seharusnya dikerjain terus pengennya malah nulis blog yang isinya ya begini-begini.
Malam ini kita ketemuan mendadak, baru direncanain tadi, langsung gas.
Alasannya ya biar sempet aja ketemu, gosip, gosip.
Biar seru gosipnya, sekalian ngemil-ngemil cantik.
Biar lebih seru lagi, lokasinya yang semi outdoor.
Jadi pergilah kita ke tempat makan terdekat yang sediain meja-meja santai, terus tempatnya terbuka. Sempet niat ke puputan, cuma ya karena remang-temang ntar kita gga liat lagi jangan-jangan orang yang diomongin di sebelah kita, jadi gga jadi deh :D

Jadi apa agenda kita hari ini?
Nothing special.
Perlu aja temen buat menguatkan hari-hari yang belakangan ini cukup melelahkan.
Melelahkan kenapa?
Ya, lelah aja.
Ada yang lagi jadi pejuang tesis isi lagi jadwal di sekolah padet.
Ada yang lagi jadi pejuang LDR dan jadwal ngajar les-nya gga santai.
Ada yang lagi sibuk banget nungguin chat orang super sibuk sedunia.
Hufth.

Pokoknya setuju aja deh kalau kita lagi lelah. Lelah lelah.
Meratapi diri sendiri gitu kayak kurang seru.
Jadi perlu temen, buat diajak ngetawain hal-hal yang sebenarnya sedikit mengenaskan.
Cuma kalau dibahas bertiga jadinya lucu aja.

Belum lagi dibumbu-bumbuin sama cerita-cerita tentang orang lain yang gga kalah seru.
Cerita temennya-temen-dari temen kita misalnya. Kita gga tahu siapa orangnya, cuma cerita hidupnya layak untuk disimak dan dijadikan pengalaman berharga buat berhenti meratapi hidup sendiri. Aiiiittt.

Pada intinya, bertemanlah dengan orang-orang positif dan berpikiran optimis. Jadi pulang main perasaan kamu lebih tenang dan bahagia.

Ya kayak kita ini. Haha.

Walaupun masalah-masalah yang disebutkan di atas belum teratasi dan kita bertiga sama-sama belum nikah sampe sekarang (dan ini orang-orang kayak bingung sendiri ngurus hidup kita yang belum merid wkwkkw :D), kita selow santai sih. Menguatkan mental bahwa nanti kalau nikah kita pasti udah siap. Kita mungkin gga bisa sesering sekarang ketemunya, tapi bukan berarti juga kita bakal sendirian nantinya.
Ketemu atau gga, kita tahu kita punya satu sama lain.
Jadi gga masalah.

Seneng aja gitu ya punya orang-orang yang jadi satu paket. Mudah-mudahan bisa terus kayak gini sampai tua nanti. Gga saingan-saingan, gga yang sok-sok jadi hits, gga yang baru ada temen baru terus yang lama ditinggal. Settle aja rasanya punya besties kayak gini. Beberapa orang perlu banget pencitraan buat diajak main sama temennya. Ya gga masalah sih, itu hak mereka. Cuma kan ribet aja kalau terus harus kayak gitu.

Gga bisa kan kayak kita yang misalnya bawa uang dua puluh ribu aja terus mesen paling banyak atau minta-minta dijemput soalnya malem gga berani pulang sendirian atau sering gga ada waktu gara-gara jam kerja padat. Udah kayak gitu masih diajak temenan dan gga ditinggal main kecuali kalau mendesak banget. Haha.

Banyak hal yang bisa diceritain kalau udah bahas tentang kita, tentang kalian, tentang mereka. Sengaja ditulis sekarang dikit-dikit, mumpung inget aja. Misalnya nanti lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, lima belas, dua puluh, dua puluh lima .... empat puluh lima tahun lagi atau kapan gitu pas yang udah tua dan mulai pikun, baca ini lagi mungkin bakal inget lagi sedikit adegan yang melintas hari ini. Sedikit cerita yang dibagikan hari ini. Sedikit gosip dan tawa yang disuarakan dengan suka cita hari ini.


Kata kuncinya ...
-koran, read, gga bales, ngambul.
-gga bilang mau pergi, surprise, mak-mak ngurus semuanya, parcel
-kode, read, gga bales, 2 hari


apa sih yang sebenernya kita omongin hari ini?
Hahaa
coba tanya sama mbok mbok bli bli yang di meja sebelah. Mereka kayaknya denger dengan jelas banget apa yang kita bahas.
I don't know what future may bring us, but I hope we can always support each other so we will never stand alone.

love,
cinT 3

Saturday, 31 December 2016

End Year Reflection: A Tribute for My Lecturer

End Year Reflection: A Tribute for My Lecturer


Time flies so fast in 2016. It seems like it just yesterday when I write my resolution for 2016 but suddenly it is time for me to write my reflection for everything done in a very lovely 2016.

Well, many amazing things happened and of course I am so grateful, thank to the Almighty God that He blesses me and my family and all people I love. I hope the God's love and bless will always be with us forever. Aamiin.

Anyway, besides all beautiful matters around me in 2016, I have a very unpleasant good bye to one of my lecturer, Bapak Dr. I Wayan Sadra, M.Ed. He passed away on Sunday, October 30th 2016.




Buat saya, Bapak almarhum adalah salah satu dosen yang sangat sangat sangat berjasa dalam pengembangan diri saya. Walaupun menurut saya semua guru dan dosen saya adalah orang yang berjasa menjadikan saya seperti sekarang, tapi Bapak almarhum adalah salah satu yang membukakan jalan bagi saya sehingga bisa ada perubahan yang sangat besar dalam diri saya.

Saya pertama kali diajar beliau di semester 1 pada mata kuliah Pengantar Dasar Matematika. Sosoknya yang tegas, detail dan disiplin membuat beliau disegani oleh mahasiswa, termasuk saya. Selama di kelas, beliau sangat memperhatikan bagaimana mahasiswanya bekerja dalam kelompok, bagaimana diskusi berjalan, bagaimana pemahaman konsep kami dan sebagainya. Beberapa kali saya ditegur untuk fokus pada grup diskusi karena sebagai mahasiswa semester satu, saya dan teman-teman suka salah fokus bercanda ketika mengerjakan lembar kerja mahasiswa ataupun buku paket kami saat itu.

Waktu berlalu, beberapa mata kuliah kembali saya lalui di bawah pengajaran beliau. Lalui seperti biasa, tidak ada yang terlalu istimewa, dalam artian saya tidak merasa banyak diperhatikan ataupun merasa jadi mahasiswa teladan di setiap mata kuliah beliau. Saya melakukan sebaik yang saya bisa. Saya tidak menyadari bahwa beliau adalah pengamat yang luar biasa di balik caranya mengevaluasi mahasiswa, termasuk setiap kali konsultasi tugas dan makalah. Saya tidak tahu.

Ketika saya di semester 6 dan 7, beliau lebih sering menyapa setiap kami berpapasan di kampus. Sering beliau menyempatkan waktu untuk sekedar bertanya sampai dimana seminar saya (waktu semester 6) atau sampai dimana proposal saya (di semester 7), meskipun beliau bukan pembimbing akademik, pembimbing seminar maupun pembimbing skripsi saya. Dalam beberapa kali kesempatan diskusi singkat-singkat kami di sela-sela pertemuan, bapak almarhum seringkali memuji, "Ibunya ratih pasti pintar, makanya ratih seperti ini." dengan kalimat yang kurang lebih seperti itu. 

Saya masih tidak terlalu paham kenapa saya mendapat pujian dari seorang dosen sekaliber beliau yang terkenal sekali pemerhati detail. Sebagai seorang mahasiswa biasa-biasa saja, saya pastinya merasa tersanjung, tapi juga bertanya-tanya karena merasa bahwa saya sama saja dengan yang lain.

Ketika akhirnya saya menjadi salah satu orang yang ujian proposal pertama di angkatan, pun yang ujian skripsi di gelombang pertama di angkatan. Bapaknya menyalami dengan penuh suka cita. Ada perasaan syukur dan bangga bahwa saya bisa melalui ini dan membuat dosen saya merasa bahagia dengan pencapaian saya.

Di sekitar akhir Juni atau awal Juli tahun 2012 ketika saya selesai yudisium, saya masih bingung membawa kemana arah hidup saya berikutnya. Melanjutkan studi S2 di kampus atau mencoba bekerja di sekolah internasional. Siapa sangka di suatu siang yang biasa, benar-benar biasa, beliau tiba-tiba menanyakan apakah saya mau melanjutkan studi dengan beasiswa. Di luar negeri.

Orang seperti saya?

Ya saya mau. Tapi apa iya saya pantas?

Bapak almarhum meminta saya memikirkan tawaran itu dan mendiskusikan dengan keluarga. Prosesnya akan panjang dan butuh waktu. Kalau lancar semua, Juni 2013 baru akan mulai studi dengan beasiswa.

Saya menerima tawaran itu karena tentu kesempatan itu tidak akan datang dua kali. Rekomendasi. Rekomendasi langsung dari dosen saya yang walaupun saya tidak minta. Tentu tidak boleh dilewatkan.

Tapi saya tidak terlalu yakin dengan diri saya.
Bagaimanapun proses beasiswa pasti tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bagaimana jika saya gagal?

Untuk itu, sambil mengisi waktu dan berjaga-jaga seandainya saya tidak lulus beasiswa, saya memilih melanjutkan S2 di kampus asal. Dengan biaya dari orang tua. Sambil mempersiapkan banyak hal.

Rekomendasi berlanjut sampai bantuan untuk memperoleh rekomendasi rektor dan lain dan lain dan lain. Sampai akhirnya saya dinyatakan lulus.
Dan akhirnya lulus studi master dan magister.

Dan kemudian kembali untuk mengabdi pada almamater yang telah membesarkan.

Some of my friends keep asking how could I get the scholarship. How could I get the recommendation. It was not as easy as today. Why it should be me? (and perhaps they questioning why don't them. but I personally don't care)
Well, I don't know that I can do it until I did it.
And I am so thankful that someone else, in this case Bapak Sadra, saw my abilities even when I didn't recognize my own.

Belum sempat menjadi asisten beliau. Sayang sekali.
Sayang sekali bahwa di suatu sore di penghujung Oktober 2016 saya tiba-tiba mendapat berita kepergian Bapak.

Tulisan ini tidak runut, tidak juga nampak bagus.
Tapi sebelum tahun ini berakhir, ingin rasanya menuliskannya.

Bahwa jika Bapak (tentunya dengan kehendak Tuhan), tidak menawarkan rekomendasi kuliah untuk saya, tentu tidak sebanyak ini pengalaman yang saya dapatkan. Tentu belum pernah saya rasakan penerbangan 17 jam. Pun belum saya tahu rasanya winter dan tahun baruan di negeri orang. Tidak tahu rasa kangen pada keluarga, bangsa dan negara. Tidak ingat rasa ingin mengabdi.

Segala hormat dan terima kasih saya sampaikan kepada Bapak. Meskipun tulisan saya kali ini tidak seindah tulisan haahahehe saya yang biasa, karena entahlah. Sulit untuk melukiskan dengan kata-kata betapa saya kehilangan, betapa saya berterima kasih, betapa saya termotivasi untuk bisa melanjutkan cita-cita mulia Bapak sebagai pendidik. Di antara sakit, Bapak masih ingat menanyakan kelas Bapak, masih ingat bimbingan-bimbingan Bapak.

Selamat jalan, Bapak.





Tuesday, 1 November 2016

Volunteering UWRF 2016

Volunteering UWRF 2016



http://www.ubudwritersfestival.com/wp-content/uploads/2016/06/2016-UWRF-General-Poster-no-logo-1.jpg



UWRF ladies and gentlemen!
Yes, I am finally became a part of UWRF 2016 as a volunteer *clapping hands so excited*

UWRF is an acronym for Ubud Writers and Readers Festival, an annual event conducted in Ubud-Bali, Indonesia. Inti kegiatannya adalah para penulis dan penggemar tulisan apapun itu, all around the world, meeting at the same point: UBUD.



Ahttp://www.globeslice.com/wp-content/uploads/2015/10/Ubud-Street-Market-Wide.jpg


Kegiatan ini sudah berlangsung lumayan lama, dari tahun 2003, jadi yes true. This is the 13th UWRF!!

Setelah bertahun-tahun kepo sama event ini dan tahun lalu sudah hampir terlibat sayangnya cancel karena jadwal tidak match saudara-saudara, akhirnya tahun ini saya jadi juga bisa menjadi sukarelawan atau bahasa kerennya volunteer dari event internesyenel satu ini.
And yes, in this post I would love to share my experience as a volunteer.
Yuhuuuu!



http://www.ubudwritersfestival.com/wp-content/uploads/2016/10/Slider-Festival-Week-04-resized.jpg



PS: this is my personal experience, if you want o read more formal, complete and concise reports related to UWRF please just open their website on: http://www.ubudwritersfestival.com/.


Well, well. Let start from the very beginning.
Jadi event ini diselenggarakan 4 hari dari Kamis 27 Oktober sampai Minggu 30 Oktober. Nah, kalau minat jadi volunteer, sekitar bulan Agustus gitu bakalan ada pengumuman call for the volunteer di webnya UWRF. Pemberitahuan ini juga biasanya di share via sosmed lain, jadi stay tune aja terus di berbagai sosmed kesayangan Anda. Haha.



http://www.ubudwritersfestival.com/volunteer/


Di form aplikasi nanti kita bakalan masukin identitas diri dan motivasi buat ikutan UWRF dan tentunya point-point penting yang bakalan bikin penyeleksi volunteer minat masukin kita ke accepted list.

Yes, not all applicant are passed the list. Kurang tahu juga apa kriteria supaya bisa lulus seleksi volunteer, tapi sepertinya yang utama adalah kita available di tanggal-tanggal yang ditentukan, bisa berbahasa Inggris at least orally karena nanti kan jadi volunteer yang harus berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai penjuru dunia. Kemudian juga cantumkan strong motivation buat ikutan UWRF. Kalau lempeng-lempeng aja, mungkin agak males lah yang nyeleksi ya, haha. Tapi kalau terlalu semangat, nanti yang seleksi curiga juga. Haha. Have no idea sih kalau yang itu. Dari saya sendiri sih apa adanya aja, pada dasarnya memang tertarik banget uwehehehhehe.

Di form aplikasi itu, kita juga bisa tulis minat kita masuk ke program mana nantinya. Jadi mau volunteer di program apa. Check out all complete program in UWRF website yang readers. :))

I personally chose the Children & Youth Program as the first option and the International Writer Liaison for the second one.

And I got my first choice!!

So, finally in the middle of September (or in the end?), I got an email from uwrf's volunteers coordinators (Kak Ochie dan Kak Ratih *yes, her name is same as me!) that I am selected. Yes!!




Kemudian dateng deh berbagai email yang minta konfirmasi apakah bersedia dengan penempatannya dan lain-lain. Kalau keberatan dengan penempatan intinya masih bisa di nego. Kebetulan kali ini pilihan dan penempatan saya sesuai yang diharapkan, so no complaint from me :D

Dan ternyata saya gga salah pilih program.
As fun and interesting as I expected. Bahkan lebih!


Nah ini beberapa list dari website UWRF tentang requirement buat para volunteer di Children & Youth Program.


http://www.ubudwritersfestival.com/volunteer/


Jadi ceritanya saya pilih Children & Youth Program karena saya pengen banget banyak bersosialiasi sepanjang kegiatan. Oke belakangan ini memang saya ngerasa perlu upgrade my English skill. Dan karena belum ada bantuan dana untuk wara wiri LN lagi, let just participate in an international event. Haha. Prediksi saya, di children & youth program dengan target usia 8 - 15 tahun, anak-anaknya pasti pada hebring hehe. Bakalan sangat banyak ngomong. Dan lagi ada ortunya yang nungguin. Jadi banyak kesempatan buat communication. Yuhuu.


Di satu sisi pengen sih ikutan di Main Program aja, jadi bisa dengerin talk show/sharing/semibar/etc. dari para invited speakers yang memang mumpuni di dunia tulis menulis. Tapi entahlah, tahun ini pokoknya fall in love aja sama children & youth program (CYP).



Setelah ikutan kegiatannya selama 3 hari (I was absent in first day due to another important event in my university), ternyata prediksi saya tepat sekali!



DI CYP, sya tugas dua kali sehari. Shift pagi sama sore. DI luar itu bisa ikutan event-event lain selama masih free. Dan itu banyak banget kok free programsnya, jadi gga usah takut bosen. Bisa juga cabs bentar kelilingin Ubud yang deket-deket. Kalau bolak balik Denpasar sih capek. Mending nikmatin eventnya aja kan. Haha.



What is nice di UWRF ini adalah kita bisa kerja bareng sama orang-orang dari mana aja. Volunteernya gga cuma dari Bali lho, ada yang jauh-jauh dari Makassar, Bandung, Jakarta, Jogja, Lombok, dan masih banyak daerah lainnya di Indonesia dan bahkan dari luar negeri. Dateng ke Bali buat ikutan UWRF!

Partisipannya pun demikian. Malah kayaknya banyakan orang luarnya daripada orang Indonesia, apalagi orang asli Bali sendiri. Padahal untu CYP, banyak juga acara free yang boleh banget di booking sama sekolah secara gretongan. Hums. Mungkin belum banyak orang Bali yang tau ya ada event se-kece ini di Bali :D



Well, denger namanya: Ubud Writers & Readers Festival mungkin kitanya langsung pada mikir ini acara buat para sastrawan doang. Tapi gga gitu juga kok. Walaupun bukan sastrawan, kamu suka baca kan? Ya baca status orang lah paling gga. Ehh. Dan walaupun gga suka nulis, paling gga mesti nulis jawaban essay pas UTS kan? :D


Di sini kita gga yang namanya dites kemampuan nulis atau harus kenal sama penulis yang diundang. Bebas aja sesuka hati kita. Pas jadi volunteer, yang penting inget sama shift, kerjain sesuai arahan. Palingan ngurus registrasi, bantuin speakernya siapin tempat, alat & bahan. Dengerin arahan speakernya, kalau dia butuh asisten maka kita asistensi. Selesainya kita rapiin lagi semuanya, balikin barang-barang ke tempatnya. DONE!

Selama acara kita bisa bantu-bantu di dalam, jadi kalau ada anak-anak yang malu berinteraksi atau pengen sama ortunya melulu, bisa lah bantu-bantu rayu dikit biar dia bisa have fun sama kegiatannya.

Terus juga disini kita ngelatih banget yang namanya kesadaran diri buat kerjain tugas kita dengan pengawasan seminimum mungkin. Jadi, kalau udah tahu ada tugas cus lah ke tempat kegiatan minimal 30 menit sebelum dimulai. Bantu-bantuin pembicaranya, peka sama anak kecil yang dateng dan mau ikutan program karena namanya juga anak-anak pasti malu-malu kucing kalau gga kitanya yang approach duluan. Kerjanya santai. Gga akan dimarah-marah supervisor karena kitanya setara aja kerjanya. Selesai tugas, makanan pun menanti di basecamp. Semuanya dilakukan dengan kesadaran sendiri. Good program to enhance your self personality, right?


That's why I love this program.




Sensasi rayu-rayu anak kecil biar mau ceria di kelas itu loh. :D



Terus juga karena anak-anak, kadang yang merasa udah bisa/paham sama kegiatan kan suka mendominasi, nah jadi volunteer itu bisa sekalian juga bantuin setting acaranya biar anak-anak ini bisa berbagi dan main/belajar bareng-bareng. So, nobody is left behind and no one also too dominate the class. Challenging kan yah :D

Silahkan itu teori-teori belajarnya (+teori hakikat manusia, filsafat ilmu, asas pendidikan, peraturan perundangan) apapun itu yang berbulan-bulan di bahas di kelas Pengantar Pendidikan, cuss dipraktekin :D


Kalau anak-anak udah nyaman sama kelasnya, suka sih saya tanya macem-macem. Ngapain dia, mau buat apa and so on. Saya suka aja dengerin anak-anak ceritain rencana mereka. Suka fantastik gitu.



Kayak pas di event Toy Story misalnya, setiap anak (boleh kelompokan) disuruh buat mainan sendiri. Terus ada tiga anak gadis cantik bule mana gitu lupa, yang ngambil kardus tebel. Salah satu anak itu masuk ke dalam dus, entah ngapain. Temen saya nanya ke saya, ngapain kira-kira anak itu. Entah kenapa saya mikir mereka mau buat rumah barbie :D



And they are!



Beneran buat rumah barbie.

Dan selesai acara, kardusnya dirapiin sama mereka di bawa pulang.
Katanya mau dibawa pulang ke negara mereka kakak.

Terus ada lagi anak yang malu-malu banget di awal acara, tapi akhirnya dia buat poster yang isi banyak gambar robot & monster. Dan ortunya bangga banget sama hasil kerjanya dan bawa pulang juga hasil kerjanya.

Rasanya bahagiaaaaa banget bisa liat wajah-wajah ceria anak-anak dan ortu yang puas dengan kegiatan yang berlangsung. Everyone say thank you for each other after the event. Sangat sangat membahagiakan sih buat aku. Sederhana banget ya the meaning of happiness for me :D :D

Tapi maaf ya di postingan ini foto kegiatan yang di publish dikit, banyakan selfie gga jelasnya haha. Habisnya saya khawatir juga sih sama isu privasinya anak-anak western yang ikut kegiatan, karena banyak juga yang gga mau di publish. Daripada menuai banyak kontroversi dan tuntut menuntut mending saya upload foto-foto cans saya ajalah meskipun kurang merepresentasi tulisan  wwkkwkwk.


















Ohya selain workshop buat anak-anak tadi, ada juga stand makanan dan buku, juga pameran lontar. Nah yang pameran lontar ini saya excited juga sih. Hihi. Di hari terakhir UWRF, akhirnya kesampaian buat belajar nulis di lontar. Kalau nulis aksara Bali bisa sih, tapi di kertas. Belum pernah yang namanya di lontar dan pakai pengrupakan. Hehe. So, it is sooooooo excited.




Overall, saya puas banget bisa terlibat di kegiatan UWRF 2016 dan tentunya pengen banget bisa ikutan lagi tahun-tahun berikutnya. Mudah-mudahan sih ada kesempatan, di tengah-tengah jadwalnya yang gga santai ini. Haha. Program berikutnya yang saya pengen ikutin mungkin book launch atau main program. Hm tapi CYP masih so much interesting for me. Masih ada waktu satu tahun buat mikir-mikir nih. Haha.

Selain itu juga tahun depan pengen stay aja di Ubud, gga usah bolak balik Denpasar. Huhu. Ini sih nunggu ijinnya kanjeng mami sama kanjeng papi duluk. Seru banget soalnya bakalan kalau malam-malam jejong di Ubud. Jalan kekong gitu keliling kota, masuk-masuk tempat makan es krim haha. UWRF 2016 gga cuma buat saya jatuh cinta sama yang namanya kerja volunteer tapi juga sama Ubud itu sendiri. Good place to live in. Aura-auranya pemirsah bawaannya pengen bahagia aja. Haha. Lupakah tumpukan deadline, email, ujian, tugas dan lain-lain yang mesti diperiksa dan diselesaikan. Let just eat gelato in a peaceful place called Ubud.

Mau ikutan keseruan ala-ala volunteer UWRF 2016?
Come and join UWRF 2017!!